Si (Sok) Sibuk

Published February 7, 2016 by eqoxa

“Mana ada lakilaki yang mau jadi pacarmu, mengurus diri sendiri aja gak sempat begitu.” – Temanku yang jujur, yang tak usah disebut namanya.

Teman akrabku ada benarnya. Dia memang suka seenaknya aja bicara tanpa tahu hatiku koyakkoyak dibuatnya. Meskipun, semua yang disampaikan ada benarnya sih. (Penulis menghela napas panjang di sini)

Lagunya Kunto Aji yang Terlalu Lama Sendiri memang bagus sekali. Makin membuat aku mencari pembelaan diri kenapa masih aja sendiri hingga hari ini.

Barangkali orang melihat seorang Aku itu terlalu pemilih dalam mencari pasangan. Ya memang. Masa iya gak dipilih? Emangnya menyenangkan menjalani hubungan tanpa ketertarikan? Tanpa nyambungnya obrolan? Ah, naif aku.

Temanku yang jujur tadi mau pergi meninggalkan Indonesia. Meninggalkan aku dengan high-quality-jomblo-ku ini, mengejar cita-citanya. Makin sepi lah hidupku. (Penulis sudah mulai menumpukkan butirbutir air di matanya)

Nulisnya nanti lagi ya. Aku lagi sibuk.

Jakarta, Februari 2016

Advertisements

Album Doa

Published February 2, 2016 by eqoxa

Seringkali manusia tersesat dalam pagi. Gigil beku yang membuat arah kakimu tak jelas menuju. Matahari pun sembunyi entah menunggu apa. Manusia sibuk dalam pikirannya. Apa yang kau temukan? Sepi.

Dua garis merah yang melingkar, satu di jariku dan satunya lagi di jarimu, adalah perbatasan yang memiliki aturan wilayah sendiri, dan Tuhan adalah penjaganya, yang akan menembak mati siapa-siapa yang melanggarnya. Kau atau aku, atau kita berdua, atau ada seseorang yang masuk seenaknya.

Barangkali mati bukanlah ujung sebenarnya. Kepercayaan yang membentuknya, meskipun aku yakin bahwa setelah mati akan ada cerita lagi di dunia baru. Bukan tentang kita, bukan tentang cinta, tapi yang lebih Maha.

Terjebak dalam pagi yang pendiam, pikiranku menjelma malam. Gelap, meski beberapa bintang dan sebuah bulan berusaha menyinari, namun aku masih merindukan matahari. Kantuk yang menggantung di bawah mata, membuat lunglai langkah dan bermalas-malasan. Mana daun? Aku hendak berayun.

Misalnya pepohonan saling bercerita tentang aku yang merindukanmu, maka akan kutemukan banyak sekali kejanggalan soal perasaanku itu. Bukan cinta, tapi ambisi untuk memiliki. Ambisi untuk tidur lelap dalam dadamu.

Di pinggir sungai kecil aku mengecipakkan seluruh resah, kuhanyutkan beberapa helai sedihku sambil menghujani pipi. Sesekali kuseka puisi yang mengalir pula di sana.

Getir.

Dengarlah, konon Cinta Tanpa Batas, tapi aku hanya Tak Biasa menggelayut pada Mendung yang tak bisa ku Hentikan. Puisi Cinta seenaknya menasbihkan Hukum Kekekalan Tawa dalam Cinta Kita. Just for you, my Hunny Bunny.

 

 

Hari ke- 3 untuk Album The Vuje – Self Titled 2013, kau sudah punya?

30 Hari Menulis Surat Cinta

Hanya Berdoa

Published February 2, 2016 by eqoxa

Mereka bilang kau tak setia, setiap hari berganti cinta, kadang benar, kadang tidak. Dalam tubuhmu telah tumbuh sebuah cinta yang baru, yaitu kecintaan pada hidupmu, meski pahit, meski pilu. Perbincangan seputar selangkangan dan payudara dan naik-turun harga, adalah menu wajib harian. Kadang kau hampir mati babak belur di tangan istri pria-pria serong, kadang pula nyaris tercekik pada tangan yang meminjamimu uang. Apalagi yang hendak kau perjual belikan selain tubuhmu? semenjak terakhir kali kau berikan perawanmu dengan cuma-cuma pada pacar – cinta – monyet-mu yang ternyata lebih liar dari monyet itu.

Dalam status lajangmu yang jalang, aku berdoa semoga suatu hari kau memintaNya untuk membawamu pada kebahagiaan sederhana yang disebut iman, meski kadang kau harus berpuasa menahan nafsumu: lapar, haus, dan orgasme. Kau tidak sakit, kau hanya butuh banyak pelukan. Pelukan kebahagiaan.

Kepada pelacur – pelacur jalanan, kaupun manusia biasa yang layak diselamatkan.

 

 

Hari ke – 2 untuk yang kudoakan.

30 Hari Menulis Surat Cinta

Dedaun Akasia

Published February 2, 2016 by eqoxa

Jam sudah menunjukan pukul 4 sore, hari sedang tanggung. Tak hujan dan tak panas, hanya sendu tanpa kabar seperti langit mendung. Aku masih menunggu. Seseorang yang sudah lama sekali ingin aku ketemu.

Tukang becak dan ojek, bajaj atau taksi sudah lalu lalang tanpa lelah mengejar Rupiah. Di dekat pohon Akasia aku membatu, menatap layar ponselku sambil menunggu, kapan tiba ujung waktu penantianku itu. Seorang tukang pos singgah tak jauh dari tempatku tegak. Dia lelah dan berkeringat. Tetiba aku teringat surat cinta, di laci lemariku yang berkarat.

Oh, pria malang yang ingin aku kirimi surat, kau beruntung karena rencanaku itu tak pernah sempat. Jikapun suatu hari aku menyapamu dengan sok akrab dan penuh hasrat, kau abaikan sajalah agar aku tak punya lagi berjuta-juta niat, padamu, pada kita yang tak mungkin tersurat. Kaupun pulanglah ke dada wanitamu yang hangat, yang aku sendiri sudah ikhlas melihat. Di dedaun Akasia, kau kutuliskan tanpa getar-getar di dada yang dulu sering menggema dan merambat.

 

 

Hari Ke-1 untuk yang terbebaskan dari hasrat.

30 Hari Menulis Surat Cinta

KUTA dan Cerita Ombaknya

Published September 3, 2015 by eqoxa

Kakiku riang sekali pagi ini, melangkah lebih bahagia dari hari lainnya. Liburan. Satu kata yang cukup ampuh bisa menaikan lengkung senyumku ke atas. Dengan ijin dari kantor aku lebih sumringah lagi. Why? Karena bohong itu dosa. Halah.

Poscinta menggoda banget temanya kali ini: kotaku bercerita. Fiksi. Menggelitik imajinasi. Kemana ya ceritaku kali ini?

Jam 8 pagi sudah sampai Bali. Setahun sudah aku tak ke sini, rindunya aneh, tak merasa memiliki tapi kok kangen pengen ketemu lagi. Terutama dengan pantai ini. Siapa sih yang tak kenal dia? 

  
Kuta.

Pantai yang banyak sekali ceritanya, melalui pasir, ombak, dan penjual-penjual tato yang setia. “Penyakit” betah berlama-lama duduk di sana pun menjangkit di kulitku yang kecoklatan.
  
Meski sekarang lebih banyak turis asing yang berlibur ke sana ketimbang lokalnya. Tahun depan akan ke sini lagi, meski gak janji. Kamu gimana?
@ikavuje

Dear LMNO 

Published February 26, 2015 by eqoxa

Jakarta, 26 Februari 

Sudah dua puluh delapan hari aku rutin membaca dan mengomentari surat kalian, dari mulai bangun pagi, siang bila ada waktu, sore saat senggang, atau malam menjelang tidur. ini cinta? Iya. I love your love letter.

Surat kalian tentu sudah menjadi bagian diriku sebulan ini. Jika lucu aku akan tertawa, jika sedih mataku akan berkaca-kaca, jika romantis aku akan senyum sendiri gak peduli dianggap gila, jika hampa maka aku hanya akan menuliskan semangat di sana.

Kalian itu hebat, ya. Setia menulis satu bulan penuh itu prestasi yang tak semua orang bisa melakukannya, bahkan aku. Dari mana sih semangat kalian itu datang? Dari cinta? Bisa jadi.

Tak jarang aku merasa haru saat membaca surat itu satu-satu, juga surat-surat yang khusus dikirim untukku. Padahal kalian tau, aku adalah tukang pos paling tak disiplin waktu, aku sering terlambat mengantar surat kalian itu, bahkan pernah waktu itu bencana datang, aku meninggalkan kalian sementara waktu. Tapi, aku dapat maafnya kan? Kalian akan tetap rajin menulis meski nanti komentarku tak lagi datang kan?

Gathering nanti kalian jangan sungkan datang, tumpahkan semua lelah dan bersuka citalah dengan penulis lain di sana. Jika tak ada aral melintang, aku akan di sana, menunggu dan menyambut kalian datang.

Terima kasih untuk selalu menjadi diri sendiri saat menulis, dengan begitu aku jadi mengenal kalian lebih dekat lagi. Semangat selalu ya, tak bisa kupungkiri, aku sayang kalian. 

Dari Ika, untuk semua penulis LMNO di #30HariMenulisSuratCinta 2015.

Pada sebuah Ruang

Published February 23, 2015 by eqoxa

Sepi sekali ruangan ini. Hanya ada jendela dan pintu masing-masing satu. Ada sofa merah yang selalu bagus bentuknya di tengah-tengah ruang, yang disampingnya ada meja kaca kecil tempat meletakkan satu pot mawar segar.
Banyak sekali foto usang di dinding. Mungkin mereka bekas penghuni atau tamu yang pernah datang ke sini. Lalu wajahku pun terpampang di sana, aku bingung dari mana asalnya.
Saking bosannya aku hempaskan diriku di sofa. Mataku sedari tadi sudah melirik jendela karena penasaran pemandangan apa yang ada di sana. Tapi ada yang menahan, yaitu rasa malasku. Padahal di luar sana mungkin ada seseorang yang bisa kupanggil, lalu kuajak menemaniku di ruang ini. Tapi tidak, aku terlalu enggan untuk menyeret diriku ke jendela yang sebenarnya hanya dua langkah ke depanku itu.
Terlalu banyak “seandainya” di kepalaku, yang sebenarnya tak perlu.
Yang mengurungku hingga tak bisa keluar dari ruang rindu. Kutunggu saja, sampai ada yang memanggilku.

Jakarta, Februari 2015

IMG_9772

oleh @ikavuje