cerpen

All posts in the cerpen category

Permintaan yang Salah

Published September 4, 2012 by eqoxa

Siang terik membakar aspal tempat aku sedang berpijak. Kututupi sebagian kepalaku dengan map berisi daftar riwayat hidup dan data keperluan melamar kerja. Ya, aku pengangguran Jakarta. Andai ayah masih ada.

Pukul satu siang jalanan macet dan hiruk pikuk lalu lalang kesibukan adalah adat. Sekian tahun begini, aku telah hafal dengan peristiwa membosankan ini. Tak perlu dikeluhkan lagi. Dalam hati aku merutuk keadaan. Kalau saja ayah masih hidup.

Ibuku bukan perempuan tangguh. Dia lemah, terhadap kemiskinan, terhadap hinaan, terhadap segala yang bertubi-tubi menghantam keluarga ini. Dia perempuan kesayangan ayah. Perempuan manja yang hanya mengurus rumah tanpa bekerja, yang akhirnya kalang-kabut mencari uang karena tak tahu harus melakukan apa. Ayah harusnya masih hidup, untuk membekalinya.

Aku memang anak tertua, yang dijadikan tulang punggung keluarga, diharapkan bisa memberikan sebanyak yang ayah beri selama ini. Tapi aku bahkan belum tamat SMA. Apalah yang aku bisa? Ah! Serasa hendak kupecahkan kepalaku! Agar berserakan ide-ide. Mungkin beginilah awalnya, sebelum seorang pribadi menjadi sesat, menuju maksiat, menjadikannya bermental bangsat. Aku harus ikut? Tidak. Aku terlalu pengecut. Aku belum berani menantang Tuhan terang-terangan. Dalam hati saja, seolah-olah Dia tak mengetahuinya. Aku selalu berdoa ini semua mimpi belaka, hidup baik-baik saja dan ayah sedang bekerja..

Kakiku kelelahan setiba di halte yang lumayan teduh dan tak terlalu ramai. Aku duduk dan mengkipasi badanku yang berkeringat. Angin menghembus-hembus wajah dan ujung-ujung rambutku yang pendek. Kuseka keringat di dahi dan menyandar-santai-kan tubuhku di bangku halte.

Lamunanku kian tinggi, masa bahagia aku dan keluarga berjalan-jalan dengan mobil kesayangan ayah. Lagi-lagi aku menyayangkan kepergian ayah yang tiba-tiba. Aku memicingkan mataku melihat sosok yang tak terlalu jauh berjalan mendekat ke arahku. Tubuh tinggi, kulit coklat, perut buncit dan kepalanya yang nyaris kehabisan rambut itu bukanlah hal asing bagiku. Dadaku menjadi sesak, saraf memerintah pada air-air yang entah darimana asalnya menggenangi mataku. “Ayah?” Tanyaku berbisik pada diriku sendiri, dengan air mata yang tak terbendung lagi. Pria itu tak tersenyum, matanya sedih. Aku meraihnya dalam pelukku dan menembus tubuhnya. Hah, khayalan macam apa ini di siang bolong? Aku merasa konyol.

Kutinggalkan halte bus dengan setengah berlari. Air mataku terus mengalir, mengutuk semua doa yang pernah kuminta selama ini. Tenanglah kau di sana ayah.

PS: inspired by “Daughters – John Mayer”
#30HariLagukuBercerita

Advertisements

Perindu

Published July 29, 2012 by eqoxa

Aku memeluknya. Oh, iya, cinta memang tak sedangkal yang kukira, bahkan setelah memar sisa cambuknya masih meradang di kulitku. Kubopong ia ke rusbang, bibirnya pucat. Ia pingsan.
Kisah klasik, pria yang dicintainya pergi begitu saja. Membawa seluruh yang ia punya, perhiasan, dan keperawanan. Menyisakan luka dan perut yang membuncit. Begitupun, ia sepertinya tegar.
Aku menyerahkan seluruh cintaku padanya. Sehari-hari aku selalu berusaha membuatnya bahagia. Namun sulit, watak pemarahnya sudah demikian lekat, masa lalu yang membuatnya demikian. Dan hal ini, membuatku terus sedih.

Sakitnya sudah parah, aku ingin ia sembuh. Tapi pengobatan bukan murah. Bukan salah siapa-siapa, tak ada yang salah. Ia yang meninggalkan perempuan ini, perempuan ini yang melacurkan diri, dan aku yang terlalu mencintai perempuan ini. Lingkaran setan.

Dia tak bangun juga. Hari sudah senja, lalu tiba-tiba darah mengalir dari hidungnya. Aku bergegas menggendong dan berjalan secepat-cepatnya menuju klinik. Apa yang bisa dilakukan pria bisu seperti aku? Teriakan tak keluar dari kerongkong, orang-orang sepanjang jalan memandangi saja sambil heran. TOLONG AKU! TOLONG PEREMPUAN INI!

***
“Ku tak selalu begini, terkadang hidup memilukan
Jalan yang ku lalui, untuk sekadar bercerita..
Pegang tanganku ini, dan rasakan yang ku derita..

Lamunanku seketika buyar dipenuhi kaca-kaca menggenang di mata. Sial, Kenapa lagu itu harus tiba-tiba terngiang dalam kepalaku! Kenangan begitu pahit tentang dia. Perempuan yang meninggal di tanganku. Perempuan tercinta yang pernah aku miliki. Ibu.

Semoga engkau tenang di sana, sesekali lihatlah aku di sini, dari balik awan.

#inspired by Di balik awan – Peterpan