cerpen

All posts in the cerpen category

Lambat

Published March 11, 2014 by eqoxa

“Yang tak berusaha dekat, akan selalu jauh.”

Itu katamu Peninsula,
Aku mendengar dan diam menanggapinya.
Kau katakan itu usai mengungkapkan cinta padaku, dan aku hanya menjawab terima kasih.

Ya, setelah itu kau menghilang. Tak lagi pernah menghubungiku. Tak lagi memuji diriku seperti dulu. Kemana cintamu?

Aneh, saat kau ada, aku tak merasa apa-apa. Selain sedikit jengah dengan rayuanmu yang kadang picisan. Juga banyak sekali kebosanan karena kau terus bertanya banyak hal. Sedang aku tak tahu apa-apa. Bahkan di mana kau tinggal pun, aku tak tahu.

Peninsula, kau di mana?
Kali ini aku akan banyak bertanya. Banyak bercerita, kau duduk saja, sambil mengunyah permen karet kesukaanmu, sesekali menatap layar telepon pintarmu itu, dan menjawabku rinduku.

Peninsula, benar katamu, akulah yang tak pernah berusaha mendekat. Sampai kau benar-benar menjauh.

Di antara penyesalanku, adalah mengapa ini harus terjadi ketika aku bahkan tak bernyawa lagi.

(diambil dari Fogvuge.wordpress.com)

Advertisements

Kenangan yang Menggantung.

Published April 26, 2013 by eqoxa

Asap mengepul dari gelas teh yang dihidangkan di meja tamu, aku duduk diam mengamati ponsel. Hening, sepi begitu terasa tajam mengoyak ruangan tak begitu luas kafe ini.

Soekarno dengan senyuman dan tatapannya kaku memandang dari pigura di dinding. Satu jam sudah, tak ada tanda-tanda pesanku akan berbalas. Ada janji temu dengan orang penting, karena hubungan yang semakin genting.

Dua pria muda tengah dimabuk asmara duduk berhadapan di meja seberang, wanita setengah baya dan anak lelakinya (cuma dugaanku) bercengkrama saling menceritakan kegiatan masingmasing. Di ujung dekat jendela ada seorang pria yang terlalu sibuk senyumsenyum sendiri pada layar monitor tablet yang dipegangnya. Selain itu hanya ada empat orang pelayan yang masih sibuk dengan tugasnya masing-masing.

Aku mulai mengantuk, kursi yang kududuki ini terlalu nyaman untuk jam-jam sekitar pukul 14. Udara pun mendukung sepoisepoi di antara bulu mata dan…

Mengerjap mata aku memandang sekitarku telah senja, di sebelah kananku sudah ada seorang pria. “Sudah puas tidurnya?” katanya sambil menuangkan kopi ke cangkirku. “Maaf aku ketiduran, sudah lama kamu? tanyaku balik.

“Lumayan, setengah jam.”katanya.

Kami saling menyeruput kopi masingmasing. Diam yang lama tanpa ada seorangpun ingin memulai pembicaraan lebih dulu.

“Kau ingin bicara apa?” Katanya akhirnya membuka cerita

“Tentang kita.” Jawabku

“Ada apa? Jangan berbelitbelit. Katakan sejujurnya dari hatimu.” Katanya membalikkan posisi tubuhnya kini menghadap ke arahku.

“Ada yang salah dengan hubungan ini. Aku tak bisa lagi mempercayai dirimu, aku tak bisa sepenuhnya mencintaimu, ada curiga yang tak ada habisnya di sana. Kaupun sepertinya sudah lelah pada hubungan ini, atau jenuh? Karena sering kutemukan dirimu sibuk dengan urusanmu sendiri dan mengabaikan aku.” Kataku tenang.

Dia diam. Mungkin berfikir.

“Mungkin kita memang gak cocok?” Katanya.

“Mungkin. Kau ingin menyerah saja?” Kataku menimpali

“Mungkin. Kau ingin menyerah pula?” Katanya.

“Aku masih menyukai hubungan ini, hanya saja ada yang salah. Kalau aku menyampaikan keinginanku apakah itu salah?” Tanyaku mantap

“Tidak ada yang salah dengan hubungan ini, aku hanya sedang sibuk dengan banyaknya pekerjaanku di kantor.”

“Aku tak sebodoh yang kau fikir.” Kataku.

“Aku tak menganggapmu bodoh. Kau terlalu curigaan, sikapmu membuatku lelah. Kita akhiri saja cinta ini.” Katanya sambil menghirup dalam rokoknya dan bangkit dari duduk untuk meninggalkanku.

Lalu gelap.

***

Aku mengerjap mata dan memandang sekitarku telah senja, aku diam lama dan memikirkan apa yang baru saja kualami. Mimpi?

Kursi di sebelahku dingin, tak ada siapa-siapa di sana, orang-orang yang tadinya ada di sana pun sudah berganti pula. Ada seorang gadis berkulit coklat dengan rambut pendek dan wajah ceria, menduduki bangku dekat pintu. Ada juga seorang pria paruh baya dengan gadis remaja yang menggelayut di lengannya di meja dekat jendela. Ada meja kosong dan pelayan toko baru yang asing wajahnya. Hanya Soekarno yang masih sama.

Kulihat jam sudah pukul 16. Aku beranjak menuju kamar kecil, mencuci tangan dan wajahku, lalu bercermin. Senyumku mengembang. Seratus tiga puluh tahun sudah, dan dia tak pernah datang menemuiku, dan aku sudah terlalu larut berjuang kalau hanya untuk menyerah.

Tidurlah

Published March 19, 2013 by eqoxa

jam berapa sekarang?

aku seperti telah tertidur bertahun lamanya, dari rasa lelah pada perjuangan yang aku masih belum juga mau menyerah. makhluk mungil di sebelahku masih lelap sambil memeluk boneka kesayangannya yang sudah mulai kumal dan jelek itu. iya, uangku tak ada untuk menggantinya dengan yang baru.

tak ada lagi pria yang biasa mengapit kami berdua dalam pelukannya, yang akan dipanggil papa oleh putriku yang tak bisa bicara. dia sudah mati, tepatnya di dalam hatiku. kutinggalkan dalam perselingkuhan yang kupergoki sebulan yang lalu. katanya, kemiskinan yang memaksanya untuk melakukan itu, ia melacur. tapi tak ada alasan yang tepat untuk menerima sebuah perselingkuhan, apapun tak layak.

kuusap kepala putriku dan menyelimutinya. wajahnya yang pucat telah membuatku begitu iba, tak layak aku perlakukan dia begini menderita. aku bukan ibu yang pantas untuknya. berkaca-kaca mataku dan kualihkan pandang pada langit yang masih gelap dan dingin. “Tuhan, masih ada tempat untuk kami pulang? Aku mulai lelah.”

dadaku sesak, mungkin racun sedang bereaksi. anakku pasti sudah lebih dulu menemuiNya, sebaiknya aku tidur lagi saja. supaya matiku tak terlalu sakit terasa.

– sudah pukul 4 pagi, di pelataran taman makam pahlawan.

 

 

(inspired by REST IN PEACE – “Tidurlah, Sayang, Ibu tidak punya beras lagi. Ayo, kita bertemu Tuhan. Ibu lelah.”)

Pemakaman Pinus

Published December 18, 2012 by eqoxa

suatu sore yang kemerah-merahan usai langit bercumbu dengan matahari, aku merebahkan punggungku yang sedikit terganggu sepasang sayap, pada batang pinus yang menjulang. tampak tak jauh dari pandangan mataku seorang bocah kecil sedang menangisi keadaannya yang tersesat, ditambahi dengan pilu yang disebabkan sosok tubuh lain yang sedang terbaring di tanah dan sekarat. pada kakinya tertancap duri besar, perangkap yang biasa digunakan pribumi untuk menangkap binatang.

kumainkan kecapiku mengalun di semilir angin, menghembuskan sepi hutan. sesekali iapun melambai-lembutkan rambut sang bocah, namun tak mengurangi kepedihannya.

daun jatuh melandai pada rambutku yang keemasan. hening yang sesak pada dada membuatku terkantuk-kantuk. rasanya ingin bermalas-malasan saja di surga, sambil bermandi cahaya dan mendengarkan nyanyian malaikat cinta. namun aku harus diam di sini, demi sang bocah.

asap mengepul arakan kecil, aku mengamati pria tua di kejauhan yang sedang membakar sampah daun dan ranting di sekitaran gubuknya. kuterbangkan diriku ke arahnya dan memainkan nada sendu, memanggilnya yang kian mencari-cari arah suara.

sampai tibalah ia di dekat tubuh kecil yang menggigil terbaring di dekat tubuh mati di sebelahnya. lalu diselimutkannya jaket yang kumal yang dipakainya, tak tega membangunkan sang bocah yang telah terlalu lelah dengan perihnya. dinyalakannya api kecil dari dedaunan. dimakamkannya seonggok daging di bawah Pinus. tanpa nisan, bertabur dedaun kering.

sore kian renta, dan angin semakin riang berhembus. lelapnya tak jua gugah, dan sang pria mulai gelisah. dijejakkannya telapak tangan pada tubuh bocah yang lebih panas dari matahari, dan bergegas ia merangkul tubuh gigil yang mungil itu dalam pelukannya. aku melayang-layang membuntutinya. sesampainya di perkampungan diteriak-teriakkannya: “jiwa siapa yang telah hilang? aku menemukannya terjatuh di hutan.”  hingga suaranya serak.

tak berapa lama muncul dua nyawa yang berpasangan, dan bergegas menghampiri sang pria. “Kembalikan jiwa kami, keduanya hampir membuat kami mati” kata perempuan yang sekonyong-konyong langsung menghambur memeluk bocah mungil dalam pelukan sang pria. itu ibunya. ia menangis memanggil sebuah nama yang telah lelap, dimakamkan di hutan.

dari kejauhan aku melihat cahaya kian terang, mungkin itu pertanda aku harus pulang, dan menyadari bahwa akulah yang telah mati.

Sebotol Captain Morgan

Published October 25, 2012 by eqoxa

Perempuan berbahu indah itu duduk memunggungi keramaian, mengaduk es di dalam tehnya dengan sedotan. Matanya memandang lengang jalanan di luar jendela. Rambutnya menutupi rahang dan telinganya, berwarna cokelat keemasan yang indah.

Aku menerka-nerka sejak ia memasuki kafe ini, mungkin ia menunggu seseorang. Atau mungkin pacar barunya, sebab ia sudah tak ramah lagi seperti dulu: kepadaku.

Kulit lengannya yang kecoklatan dibiarkannya terbuka, warna-warna musim panas dan khas ketimuran terpapar jelas. Dia tak begitu cantik, tapi menarik dan menyenangkan. Siapapun pasti betah berlama-lama mengobrol dengannya. Julia namanya.

Sesekali ia menyisir rambutnya dengan jari ke belakang, saat itulah kau bisa melihat pulasan merah muda, samar di tulang pipinya. Matanya yang tajam dan berbinar cerdas sama hangatnya dengan matahari sore. Aku selalu tak mampu mengabaikan momen ini.

Pukul 4 sore, datang pria berusia 30-an menurut perkiraanku, dan mencium pipinya. Mereka mengobrol mesra dengan bahagia seolah di sana tak ada siapa-siapa. Mendung di luar ruangan bahkan tak terasa sedihnya. Oh, begitukah cinta?

Hubunganku dengannya bukan apa-apa. Cuma teman curhat, saat putus dengan kekasihnya yang dulu. Dia begitu menggilaiku, akupun hanya menikmati kegilaannya. Bibir kami berpagut setiap malam, mabuk yang tak terelakkan. Tapi itu dulu, kini Juliaku sudah hilang, bersama kepedihannya. Jangankan menjamahku, memandangku pun ia telah enggan.

Aku tak berharap ia kembali memelukku, membasahiku dengan air mata dan tenggelam dalam sedihnya. Aku justru mengharapkan bisa hadir dalam perayaan kebahagiaannya. Menemani bila suatu waktu ia kesepian lagi. Biarlah aku tetap menjadi rum, yang mengamatinya dari dalam botol.

Sepasang Api

Published September 14, 2012 by eqoxa

“Sanjayaaaaaaaaaaa! Kau kemanakan jaketkuuuuu????”

Masih pukul 5 pagi. Aku sudah teriak-teriak seperti manusia kesurupan setan. Bagaimana tidak, jaket yang paling kusayang, yang biasa kukenakan sesekali ke acara bergengsi, dan harganya bisa membuatku menahan lapar dua bulan, dan biasanya tersimpan rapi dalam bungkusan plastik laundry– tapi kini lenyap. Siapa lagi kalau bukan bajingan muda tukang pamer itu yang meminjamnya tanpa permisi.

Ibu tergopoh-gopoh melongo menuju kamar Isan (panggilan kecil Sanjaya), lalu dengan wajah kaget ia bertanya:

“Ada apa ini teriak-teriak masih pagi?”

“Biasa bu, anak muda, aku berangkat dulu ya.” Kataku ngeloyor sambil mengecup pipinya. Ibu cuma bilang hati-hati dengan wajah yang masih terus kebingungan di depan Isan yang masih lelap.

Perjalanan ke kantor adalah tempat aku biasa mengakrabkan diri dengan fikiran-fikiranku. Satu jam terjebak macet sudah bukan hal aneh. Lampu menyala merah, itu berarti saatnya aku mengendurkan urat-urat berfikir dengan mengingat-ingat hal menyenangkan yang sudah kudapatkan bulan ini, saat lampu berubah hijau berarti saatnya aku lebih berkonsentrasi pada orang-orang di jalanan. Kadang kegiatanku ini menambahi rasa syukur, dengan melihat apa yang tak mereka miliki, telah kudapatkan.

Bus memang tak pernah tak padat. Untung AC menyala dan penumpang dilarang merokok.

Jaket kesayanganku sudah tergantung rapi dan wangi pada pukul 7 malam di lemari. Aku tidak yakin ini kerjaan Isan. Pasti ibu.

“Terima kasih jaketnya” suara Isan mengagetkanku. Tumben dia manis.

“Iya, sama-sama, lain kali lo pamit dong kalo mau pakai barang-barang gue.” Kataku sok cuek.

“Iya, maaf ya.” Katanya lalu berjalan meninggalkanku.

Tumben dia gak jahil seperti biasa. Mana kata-kata “halah, jaket buluk jelek begitu doang aja disombongin” yang biasanya dia ucapkan?

Dadaku tiba-tiba sesak. Apa kata-kataku terlalu kasar? Padahal aku cuma pesan sama ibu lewat telfon:
“Aku mau pakai jaket malem ini, tolong dicuci dan digantung rapi. Sampaikan ke Isan ya bu”.

Menikah setahun dengan Isan, aku belum sekalipun disentuhnya. Bukan karena apa-apa, ini perjanjian kami sebelum nikah karena dijodohkan. Kami memutuskan untuk saling mencintai dulu sebelum tidur seranjang. Sebab itulah, kamar kamipun terpisah.

Isan yang musisi gaya hidupnya kelas atas dan sesuka hati. Berbanding jungkir balik bila dibandingkan aku yang cuma guru SMP. Jam kerja yang jauh berbeda tentu saja menjadikan kami menjadi sangat jarang berkomunikasi. Akupun heran mengapa ia mau menikah denganku, padahal banyak gadis lain jauh lebih gaya dan luar biasa cantik dijodohkan dengannya.

Tapi tingkahnya hari ini aneh. Aku mengetuk pintu kamarnya dan dia menyahut “masuk” dari dalam, seolah-olah ia tahu itu aku yang datang.

“Kamu tumben gak ngomel kaya biasanya?” Tanyaku langsung.

“Ah, biasa saja. Lagipula memang salahku.” Jawabnya datar.

“Oh, lagi bete ya?”Tanyaku menyelidik.

“Sotoy deh.” Katanya mulai sinis.

“Jelek lo kalo bete. Kenapa sih? Cerita kek..” Aku sedikit mencoba mencairkan suasana.

“Kira-kira kapan kamu mau mulai mencintai aku?” Katanya sambil serius menatapku.

Aku diam. Jadi batu.

“Woi, diem lagi lo!” Katanya mengagetkan.

“Aa..a a.. Aku mau ke toilet, kebelet..”Kataku buru-buru mau kabur. Tapi kalah cepat. Dia sudah menahan di depan pintu dan menutup dan menguncinya. Mati aku. Jantungku..

“Jawab dulu pertanyaanku..”Katanya memandang tajam ke wajahku.

“Kenapa aku harus menjawab? Memangnya kamu sudah mencintai aku?”Tanyaku mulai memberanikan diri.

“Malam ini kita kencan. Sekarang kau ganti bajumu yang cantik. Titik!” Katanya. Dan mendorongku keluar kamar.

HEY?? HELLOO??? Apa-apaan sih laki-laki satu ini? Memangnya siapa yang mau kencan dengannya? Aku sudah janji dengan Sasti, rekan guruku, untuk ikut undangan makan malam pak KepSek di rumahnya. Dan dia seenaknya membuat janji dadakan begini?? Bah !!

DOK!DOK!DOK! (Suara ketukan pintu sangat keras)

“Aku udah selesai, kutunggu di ruang tamu. 10 menit ya, gak usah dandan menor!” Suara Isan mengagetkan.

Buru-buru kutelepon Sasti dan dengan terpaksa memohon maaf berjuta kali karena membatalkan janji ketemu. Dan mengganti baju kerjaku dengan gaun merah kesayanganku. Gaun (yang anehnya) kupersiapkan sejak lama, kalau-kalau Isan mengajakku kencan.

***

Setengah jam kemudian kami tiba di restoran kecil, lampunya temaram. Kami duduk berhadapan di bangku empuk berwarna cokelat. Hening. Pesananku tiba-tiba sudah datang. Tapi darimana dia tahu aku suka jus mangga?

“Mau makan apa?” Katanya.

“Pesan aja duluan” kataku

“Saya pesan nasi goreng ikan asin, mbak. Yang pedes, ya.”Katanya pada mbak-mbak pelayan yang sibuk mencatat pesanan.

“Loh, kamu dukun ya? Aku mau pesan itu juga.” Kataku melotot kagum.

“Berarti dua, mbak. Nganternya nanti, kalau sudah saya bunyikan bel.” katanya kepada pelayan tanpa menggubris kata-kataku.

Kembali hening.

Close your eyes, give me your hand, darlin’, do you feel my heart beating, do you understand, do you feel the same, am I only dreaming, is this burning, an eternal flame

Lagu kesukaanku mengalun pelan di ruangan ini, selain jus mangga dan nasi goreng ikan asin, apa hal ini masih kebetulan juga? Di ruangan ini tidak ada siapa-siapa. Tertutup untuk kami berdua.

Aku sibuk pada ujung taplak meja yang menjuntai di atas rokku. Sesekali menyeruput jus dan mencuri pandang pada dia yang terus menatapku.

“Kamu gak bisa ya ngelihatnya ke wajahku?” Tanyanya ketus.

“Ih, ngapain ngeliatin kamu. Kaya cakep aja.” Jawabku. memang cakep sih kata hatiku.

Dia bangkit dan aku berusaha menjauh, tapi ia buru-buru menyambar kedua tanganku.

“Lihat aku!” Katanya merapatkan tubuhku ke tubuhnya. Wajahnya dekat sekali. Sial. Aku harus segera punya dokter jantung pribadi. Tangannya tak lagi mencengkram tanganku. Tapi sudah memeluk pinggangku.

“Maaf aku memang tidak romantis. Tapi percayalah, aku sudah mencintaimu sejak pertama kau buatkan sarapan nasi gorengmu yang keasinan di hari pertama kita menikah dulu.”

“Juga saat aku menemukan gitarku tak lagi berdebu dan kamarku bersih sepulang konserku.”

“Lalu aku semakin mencintaimu ketika ulang tahunku kau berhasil mengundang papaku yang tak pernah mau pulang sejak perceraian mereka dulu.”

“Dan aku semakin tak bisa lagi menahan rasa untuk memelukmu. Karena semakin hari semakin aku mencintaimu. Sekarang aku bertanya, apakah kau sudah mencintaiku?” Tanyanya. Masih sambil memelukku.

“Aku mencintaimu meskipun kau jahil. Meskipun kau tak pernah bersikap manis dan tak pernah merayuku. Meskipun kau lupa hari ulang tahunku. Dan memberiku hadiah boneka jelek yang kau beli di supermarket seminggu setelahnya. Kau memang bajingan menyebalkan, tapi sialnya aku menyayangimu.” Jawabku.

Dia tersenyum, lalu tiba-tiba menciumku di bibir. Kami sedang begitu terbakar nafsu sampai tiba-tiba dia bilang:
“aku lapar. Nanti lanjut lagi ya.”

Dasar brengsek.

#30HariLagukuBercerita
Eternal Flame – Covered by Atomic Kitten

Pengakuan hati

Published September 9, 2012 by eqoxa

Sedikit terengah-engah aku sampai di rumah, disambut ibu yang duduk merajut, melirik sekilas dari balik kacamatanya yang melorot ke ujung hidungnya yang mancung.

“Dari mana kamu ngos-ngosan begitu?” Tanyanya sambil terus merajut.

“Ketemu bapak. Di Halte.” Jawabku datar.

“Jangan ngawur kamu. Semua orang juga tahu kalau dia sudah meninggal.” Kali ini diletakkannya rajutannya dan memandangku serius.

“Yasudah kalau ndak percaya. Aku mandi dulu bu, gerah.”Ucapku tak menunggu responnya.

“Ya begitu anak sekarang. Suka lari dari masalah. Mandi sana yang bersih, sekalian segarkan isi kepala kamu yang mulai ruwet itu.” Tutup ibu.

Memang begitu kalau janda. Sensitif. Apalagi kalau menyangkut bapak. Kasihan ibu. Tapi aku memang bertemu bapak. Mungkin ini hadiah, atas rinduku pada beliau dalam bentuk halusinasi.

***

Akhirnya aku mendapat pekerjaan setelah dua belas hari luntang-lantung mencari di seputaran Jakarta yang ganas ini. Pelayan, di sebuah kedai kopi modern. Biarlah, asal halal.

Padahal aku tak suka kopi. Aroma kopi sering membuat mataku berair sembari kembali ke masa lalu, saat bapak masih ada. Ia duduk minum kopi dan membaca koran, dan aku bermain masak-masakan di sekitarnya.

Aku dan ibu memang tidak akrab. Entahlah, kami memang seolah dipasangkan pada garis darah yang salah. Dia dengan segala tingkah kunonya yang berlebihan, dan aku yang terlalu kekinian dan keras kepala.

Bahkan dulu mereka bilang, dia bukanlah ibu kandungku. Perbedaan kami terlalu jelas dari segi manapun, baik fisik, kegemaran, dan banyak hal lainnya. Ah, mungkin aku terbaca terlalu membesar-besarkan.

***

Keesokan pagi aku bangun. Sepi. Hanya suaraku yang sedang menguap dan hembusan angin pada horden yang menampar-nampar kawat anti nyamuk pada jendela kamar yang bersuara. Tak ada gemericik air cuci piring, atau bunyi krompyangan dapur biasa ibu memasak, juga tak ada suara siaran berita samar-samar dari tivi di ruang tengah. Kemana ibu?

Aku melawan rasa malasku dan bangkit mencari-cari sebab sepi ini. Berkeliling rumah dan menemukan ibu tersungkur di dapur tentu membuat aku sadar seketika dan panik.

Dengan pakaian seadanya aku menuju rumah sakit, setelah dibantu para tetangga mengangkat ibu ke mobil. Kenapa ibu?


Mamma, you gave life to me, turned a baby, into a lady

Mamma, all you had to offer, was the promise of, a lifetime of love

Now I know, there is no other, love like a mother’s love for her child

And I know, a love so complete, someday must leave, must say goodbye ..

Perasaanku berantakan, lagu ini semakin membuatku menyesali semuanya. Sikap kasar dan tak peduliku pada ibu, jawaban-jawaban ketus yang tak semestinya kulontarkan. Keangkuhanku. Maafkan aku, bu.

Selama kurang lebih dua jam menunggu di ruang tunggu Unit Gawat Darurat, akhirnya dokter keluar menemuiku.

“Ibumu sudah membaik, ia kekurangan banyak cairan. Kapan kau lihat terakhir kali ia makan?” Ini pertanyaan yang menampar keras wajahku. Kapan ya dia makan terakhir kali? Aku tidak tahu. Terdiam lama, dokter menepuk pundakku.

“Kalian bertengkar?” Katanya lagi. Dia memang dokter keluarga kami. Rasa-rasanya banyak yang sudah dikeluhkan ibu padanya.

“Sedikit dok” jawabku akhirnya.

“Ibumu sedikit tertekan, dia sudah sadar. Tapi masih enggan bicara. Sepertinya sedang sangat sedih. Ajak dia makan.” Kata dokter lagi.

“Baik dokter, terima kasih.” Ucapku.

Aku sudah duduk di samping tempat tidur ibu. Tangan kanannya dipenuhi selang infus. Wajahnya pucat.

“Kapan terakhir kali ibu makan?”Kataku akhirnya setelah hening sekian menit.

“Sudahlah tak usah diperpanjang.”Ujarnya

“Apanya yang diperpanjang? Aku cuma nanya.”Kataku

“Dua hari yang lalu.”Jawabnya

“Sial. Untuk ap..”

“Ibu bilang sudah tak usah diperpanjang.” Katanya memotong ucapanku

“Urusan ini memang sudah panjang karena ibu sampai harus dirawat di ruangan ini, bu. Sekarang mari kita bicara saja, agar tidak membesar masalah kita.” Kataku sedikit menekankan suaraku.

“Ibu kangen bapakmu. Sejak dua hari ke makam beliau, justru semakin rindu. Rasa-rasanya ingin menyusulnya.” Ucapnya menerawang

“Apa aku kelihatan tak begitu berartinya bagi ibu? Sampai ingin menyusul bapak segala. Mau membiarkan aku menghadapi kesedihan ini sendirian begitu?” Tanyaku

“Bukan.. Ibu..” Suaranya terhenti. Bibirnya bergetar dan menetes air matanya.

“Sekarang ibu makan. Aku benci ibu cengeng. Harusnya kita saling menguatkan, bukan saling meninggalkan. Maafkan sikapku selama ini. Aku menyayangimu, bu. Ini aku bawakan sup kesukaan ibu.”Kataku menghapus air matanya.

Akhirnya keluar juga kata sayang itu, kata-kata yang seharusnya lebih sering kuucapkan kepada ibu.

Terinspirasi dari lagu:
Goodbye’s (the saddest word) – Celine Dion
Untuk #30HariLagukuBercerita