Surat

All posts in the Surat category

Terbaik

Published February 14, 2017 by eqoxa

Dear Em,

Dirimu pasti sudah bahagia di sana kan? Selamat pagi, siang dan malam. Sudah sarapan, makan siang atau malah lagi ngemil malam? Maaf, aku tak begitu familiar dengan pergantian waktu di surga. Bagaimana keadaan di sana? Pasti lebih menyenangkan dari di sini ya. Tak ada lagi kesakitan di tubuhmu, ataupun derita yang tak pernah sekalipun kau keluhkan pada banyak orang. Kau hebat menyembunyikan itu semua.

Sampai saat ini aku masih percaya bahwa orangorang terbaik akan dijemput Tuhan lebih dulu, diselamatkan dari godaan dunia. Kaupun pastilah satu dari sekian orang itu.

Di sini aku, dan temanteman Poscinta kesayanganmu ini sedang mengenang. Segala waktu yang pernah kita habiskan bersama sejak pertama kenal hingga komunitas ini berjalan hingga saat ini. Hari ini, khusus mengenangmu. Sedih pasti iya, tapi aku yakin kau sudah bahagia. Jadi biarkan saja kalau kau melihat kami mengetik tulisan ini dengan mata berkaca dan hidung berair. You know what?! Aku sampe diliatin mas – mas barista kedai kopi langganan, disangkain aku putus sama pacar. Padahal mah jomlo.

Yang paling kuingat dari dirimu adalah tawamu yang lebar dan tulus itu. Juga konsistensimu setiap mengerjakan apa-apa. Itu sangat menginspirasiku.

Em,

terima kasih sudah menjadi bagian dari kisah persahabatanku. Terima kasih telah membimbingku dengan sabar menjadi tukang pos. Selalu dewasa mengambil sikap dan menghadapi tingkah yang kadang sebenarnya ngeselin banget. Mari saling memaafkan ya. Kau harus tahu, betapa aku tak bisa menahan air mataku mengalir deras tanpa henti, tiap kali mengingatmu. Tapi jangan khawatir, ini hanya sesak karena kita sudah tak bisa lagi bertemu, meskipun aku sudah terlalu rindu.

Terakhir kita ketemu di nikahnya EkaOtto, saat itu kau dan teman PosCinta lainnya kupaksa nyanyi. Dengan polosnya kau ikuti saja kemauanku itu, mungkin itu caramu untuk bikin senang pengantin ya. Masih jelas kuingat wajahmu bernyanyi sambil tertawatawa lucu, karena lagunya All of Me – John Legend, dinyanyikan oleh para pemalu. Ah.. menetes lagi lah air mataku. Tisu mana tisuuuuu.

Baik-baik ya, Em. Sampai ketemu lagi saat waktunya telah sampai.

 

Dari tukang Pos, Ika Vuje.

Jakarta, 14 Februari 2017 #PosCintaTribu7e

#UntukOmEm

 

 

 

 

 

Untuk Sepasang Musuh Tersayang

Published February 12, 2017 by eqoxa

Kepada Anda berdua,

Aku tak ingin melewatkan satu tahun pun untuk menuliskan surat cinta kepadamu, satu wanita dan satu pria yang saling memusuhi.

Pertama,

maafkan aku. Sebab sering aku mengambil keuntungan dari permusuhan kalian demi mendapat perhatian. Tapi sekarang, aku justru masih sering mencari akal agar kalian tak lagi saling bermusuhan. Hobi kalian yang satu itu sungguh mengganggu, bikin berisik, rumah jadi kayak ada lima belas orang. Aku tahu, kata – kataku kasar, ketus dan tak penuh kasih sayang. Beda sekali jika dibandingkan dengan gaya bicaraku dengan teman – teman. Tapi bukan berarti aku benci Kalian.

Kedua,

mari kita saling mendoakan. Doa anda berdua adalah yang paling manjur. Tak langsung terwujud memang, tapi paling cepat ditanggapi. Wajar, karena kalian wakil Tuhan. Aku mendoakan kalian pelan – pelan, dengan bahasa yang tak dibuat-buat. Dengan kadar cinta yang paling dasar, ditemani kaca-kaca berbulir di retina, dengan suara berbisik di lembah terjal yang bernama; hatiku. Bagian ini aku tak terlalu suka, sebab inilah saatnya aku merasa paling lemah dan banyak dosa.

Ketiga,

terima kasih. Kalian begitu istimewa. Tak bisa kubayangkan apa jadinya aku kalau kalian tak ada. Yah, meskipun untuk beberapa hal sikap anda, anda, cukup bikin sebal, tapi itu wajar, karena bagaimanapun anda berdua adalah manusia.

Tidak usah membaca surat ini segera. Nanti saja, ketika anda dan anda berhasil menemukannya, dengan cara paling tak disangka sekalipun. Karena aku yang tangguh dan berambut pendek ini adalah pemalu sejati. Ya, demi tuntutan peran pastinya aku harus melepaskan sikapku yang ini menjadi lebih percaya diri.

Terima kasih untuk kasih sayangnya, semoga Tuhan menyayangi Papa dan Mama, lebih baik dari dahulu merawatku sejak kecil.

 

Salam hangat

Anak

By @ikavuje

Menulis surat 7 hari bersama Pos Cinta – #PosCintaTribu7e

Sampai Kita Jumpa

Published February 29, 2016 by eqoxa

Baru kemarin rasanya tanggal 1 Februari itu, kok hari ini sudah habis bulannya? Aku sering merasa waktu itu hampir sama cepatnya dengan cahaya. Buktinya banyak orang yang kemarin cinta, hari ini sudah tidak. Bukan, aku bukan curhat. Tapi bohong.

Cinta itu apa? Seorang penulis menanyakan padaku hal ini, menurutku cinta itu yang membuat rasa di dada, entah itu rasa pedih, ataupun bahagia. Maka cinta itu sebenarnya, biasa saja.

Para penulis surat cinta itu siapa? Aku pun tak kenal secara personal. Ada Anna, ada Yara, ada Tyas, ada Hana, ada Wilma dan yang lain yang tak sanggup kusebut satu-persatu namanya. Tapi aku kagum sekali dengan kegigihan mereka, itulah yang membuatku tiap hari bersemangat membaca dan mengantar surat mereka. Selesai membaca aku pasti selalu menebak-nebak akan menulis apa lagi mereka besok. Energi yang luar biasa. Aku mengaku kalah.

Cinta itu memang besar sekali, kecintaan mereka pada menulis itu yang aku maksud. Sebab jika tidak, maka semangatnya akan hilang di tengah bila euforia juga hilang. Mereka ini tidak. Mereka menuliskan cinta dengan rajinnya, dengan banyak sekali model cerita yang tak kutemui dalam hidupku, cinta yang kaya.

Surat ini menurutku bukan surat perpisahan, hanya jeda sejenak, sebelum kita bertemu lagi di cerita yang lain. Oh iya, aku ingin mengajak kalian, penulis keren, kencan menonton film bersama. Tanggal 26 Maret 2016 di Jakarta rencananya. Berminat? Jika iya, daftar denganku di twitter ya. Sampai kita jumpa!

 

Jakarta, 29 Februari 2016

Professor 

Published February 9, 2016 by eqoxa

Rambut sudah habis, kacamata lebih tebal dari kaca mobil tak tembus peluru punya Obama. Postur yang tak terlalu tinggi dan pendiam, itulah gambaran sedikit tentang pak Syafrizal, yang sama kurusnya seperti Bim-Bim, penggebuk drum di band Slank. Gak mirip banget sih. Tapi julukan itu sudah nempel banget sama si bapak, malah jarang ada yang ingat nama aslinya saking populernya nama itu.

Tapi di mataku dia ganteng. No bukan karena aku tertarik ingin jadi pacarnya, cuma aku kagum dengan ketekunannya. Guru. Iya. Profesi yang memang butuh nyali. Siapa berani, menghadapi ibuibu yang hobinya komplain setiap hari soal perkembangan anaknya? Siapa yang rela, harus menahan emosi tiap kali anak didiknya tak bisa diatur? Siapa yang mau, tidur tak tenang ketika musim kelulusan tiba? Ditambah gaji yang tak seberapa pula. Ya itu makanya dia kusebut ganteng. 

Aku tak tahu kabarnya sekarang. Pak BimBim yang pendiam tapi suka ketawa. Ketawa melihat tingkah polah muridnya. Ada yang malas, ada yang berisik, ada yang berantem, bahkan tidur. Aku heran, kenapa dia tak punya marah. Dia tetap ngajar, meskipun yang dengerin nyamuk. Hatinya pasti seluas bandara Changi.
Kalau nanti ketemu lagi akan aku salami dia, dengan jutajuta terima kasih pada pelajaran bahasa Inggrisnya yang kalem itu. Ngantuk pak, tidur dulu ya.
#30HariMenulisSuratCinta

Hari ke 7

Untuk Perempuan Surga

Published February 7, 2016 by eqoxa

Pulanglah ke dada ibumu yang rumah, suatu hari bila kau lelah.

Itulah yang terbesit dalam tulisanku ketika mengingatnya. Perempuan lemah yang paling kuat di seluruh dunia. Memilikimu adalah berkah yang tak hingga. Aku mencintaimu meski seringkali yang tersampaikan bukan itu.

Aku ingin membuatkanmu rumah mewah dari doadoaku yang kukumpulkan tanpa setahu engkau, tapi sampai di Tuhan. Panjang sekali doadoa itu sehingga membentuk dinding, jendela, lantai dan atap yang terbuat dari emas. Di sana, kau akan menjadi yang bahagia ibu.

Aku tak punya uang banyak untuk membelikannya di dunia, maaf. Aku hanya pekerja yang terlalu sibuk mengumpulkan materi, bahkan menghubungimu tak sempat. Maaf ibu, luka pasti hatimu itu. Padahal saat membesarkanku, apapun kau tak sempat. 

Ibu. Suratku sudah dulu, doamu jangan berhenti mengalir untukku. Seperti air mataku mengaliri pipi, tiap kali aku mendoakanmu.

Jakarta, Februari 2016

Si (Sok) Sibuk

Published February 7, 2016 by eqoxa

“Mana ada lakilaki yang mau jadi pacarmu, mengurus diri sendiri aja gak sempat begitu.” – Temanku yang jujur, yang tak usah disebut namanya.

Teman akrabku ada benarnya. Dia memang suka seenaknya aja bicara tanpa tahu hatiku koyakkoyak dibuatnya. Meskipun, semua yang disampaikan ada benarnya sih. (Penulis menghela napas panjang di sini)

Lagunya Kunto Aji yang Terlalu Lama Sendiri memang bagus sekali. Makin membuat aku mencari pembelaan diri kenapa masih aja sendiri hingga hari ini.

Barangkali orang melihat seorang Aku itu terlalu pemilih dalam mencari pasangan. Ya memang. Masa iya gak dipilih? Emangnya menyenangkan menjalani hubungan tanpa ketertarikan? Tanpa nyambungnya obrolan? Ah, naif aku.

Temanku yang jujur tadi mau pergi meninggalkan Indonesia. Meninggalkan aku dengan high-quality-jomblo-ku ini, mengejar cita-citanya. Makin sepi lah hidupku. (Penulis sudah mulai menumpukkan butirbutir air di matanya)

Nulisnya nanti lagi ya. Aku lagi sibuk.

Jakarta, Februari 2016

Album Doa

Published February 2, 2016 by eqoxa

Seringkali manusia tersesat dalam pagi. Gigil beku yang membuat arah kakimu tak jelas menuju. Matahari pun sembunyi entah menunggu apa. Manusia sibuk dalam pikirannya. Apa yang kau temukan? Sepi.

Dua garis merah yang melingkar, satu di jariku dan satunya lagi di jarimu, adalah perbatasan yang memiliki aturan wilayah sendiri, dan Tuhan adalah penjaganya, yang akan menembak mati siapa-siapa yang melanggarnya. Kau atau aku, atau kita berdua, atau ada seseorang yang masuk seenaknya.

Barangkali mati bukanlah ujung sebenarnya. Kepercayaan yang membentuknya, meskipun aku yakin bahwa setelah mati akan ada cerita lagi di dunia baru. Bukan tentang kita, bukan tentang cinta, tapi yang lebih Maha.

Terjebak dalam pagi yang pendiam, pikiranku menjelma malam. Gelap, meski beberapa bintang dan sebuah bulan berusaha menyinari, namun aku masih merindukan matahari. Kantuk yang menggantung di bawah mata, membuat lunglai langkah dan bermalas-malasan. Mana daun? Aku hendak berayun.

Misalnya pepohonan saling bercerita tentang aku yang merindukanmu, maka akan kutemukan banyak sekali kejanggalan soal perasaanku itu. Bukan cinta, tapi ambisi untuk memiliki. Ambisi untuk tidur lelap dalam dadamu.

Di pinggir sungai kecil aku mengecipakkan seluruh resah, kuhanyutkan beberapa helai sedihku sambil menghujani pipi. Sesekali kuseka puisi yang mengalir pula di sana.

Getir.

Dengarlah, konon Cinta Tanpa Batas, tapi aku hanya Tak Biasa menggelayut pada Mendung yang tak bisa ku Hentikan. Puisi Cinta seenaknya menasbihkan Hukum Kekekalan Tawa dalam Cinta Kita. Just for you, my Hunny Bunny.

 

 

Hari ke- 3 untuk Album The Vuje – Self Titled 2013, kau sudah punya?

30 Hari Menulis Surat Cinta