SejenisSajak

All posts in the SejenisSajak category

Suam – Suam Rindu

Published March 18, 2014 by eqoxa

Angin kencang sekali, ada gadis kecil terlantar tak bisa pulang. jaketnya tak terlalu tebal menutupi tubuhnya yang selembar tipis. Gemuruh menandakan sepi akan berganti, ada banyak dentuman yang membuat kaget dan gugup.

Kemana ia akan berteduh? tak ada pepohonan, tak ada gubuk kecil hangat milik nenek yang bisa menyambutnya, apalagi kasur hangat dan selimutnya. Sementara tubuhnya telah gigil, suasana makin tak nyaman dan malam semakin kelam.

Kau tenanglah, takkan terjadi apa-apa padamu, aku hanya sedang menceritakan isi hatiku saat tak ada kamu.

Disewakan: sebuah hati tak terpakai

Published March 3, 2014 by eqoxa

Sudah sepi. Bagian hati hilang separuh. Rindu terserak enggan kurapikan. Kau sedang apa? Aku tahu. Kau sedang sibuk membahagiakan dia.

Aku punya hadiah segaris senyuman buatmu, harganya murah, tapi percaya atau tidak, kau tak bisa menemukannya di tempat paling mewah tak pula di pasar loak. Hanya aku yang memilikinya, di wajahku.

Seringkali aku tak menemukan apapun ide yang bisa kutuangkan pada gelas lagu. Kau sama sekali tak menginspirasiku. Kau tak membuatku ingin menciptakan sebuah lagu, ataupun menyanyikan sesuatu. Kau begitu meriah, maka aku akan menjelma hutan sepi, diam bagai batu, menyimak bahagiamu.

Setelah lama menimbang, maka akan kusewakan saja sepetak ruang hatiku yang jarang ditempati ini. Lumayan bila ada yang berani menyewa, aku bisa membeli nasi bungkus atau anting berlian yang harganya bergelantungan di langit ke-tujuh.

Hei Tuan penabur luka, menjauhlah dari tanah jantungku yang lunak, pecahan tawamu sering terinjak, hingga berdarah dadaku, demi senyummu terpelihara.

Pepohonanku ~

Published November 6, 2013 by eqoxa

Suatu pagi angin berhembus
Menyapa dedaunan
Berterbanganlah Kenari Merah
Hinggap ke dahannya

Dinyanyikannya lagu tentang bidadari
Katanya “Cinta seindah dia”

Lalu bangunlah sang matahari
Di sela awan dan langit
Disapanya bumi dan laut
Dengan hangat cahayanya

Seperti pepohonan yang ada
Di jalan yang kusapa
ia menjadi kenangan –
Kenangan di masa depan

Hu ~
Dia kan bernyanyi lagu, sendu
Pada bumiku yang gersang
Tiada lagi, hembusan lembut kehijauan
Setiap hari
Menggema bisik yang membuatku rindu

Jangan ambil pepohonanku ~
Jangan ambil pepohonanku

pak puisi

Published August 13, 2013 by eqoxa

seringkali manusia tersesat dalam pagi. gigil beku yang membuat arah kakimu tak jelas menuju. matahari pun sembunyi entah menunggu apa. manusia sibuk dalam pikirannya. apa yang kau temukan? sepi.

dua garis merah yang melingkar, satu di jariku dan satunya lagi di jarimu, adalah perbatasan yang memiliki aturan wilayah sendiri, dan Tuhan adalah penjaganya, yang akan menembak mati siapa-siapa yang melanggarnya. siapa? kau atau aku, atau kita berdua, atau ada seseorang yang masuk seenaknya.

barangkali mati bukanlah ujung sebenarnya. kepercayaan yang membentuknya, meskipun aku yakin bahwa setelah mati akan ada cerita lagi di dunia baru. bukan tentang kita, bukan tentang cinta, tapi yang lebih Maha.

terjebak dalam pagi yang pendiam, pikiranku menjelma malam. gelap, meski beberapa bintang dan sebuah bulan berusaha menyinari, namun aku masih merindukan matahari. kantuk yang menggantung di bawah mata, membuat lunglai langkah dan bermalas-malasan. mana daun? aku hendak berayun.

misalnya pepohonan saling bercerita tentang aku yang merindukanmu, maka akan kutemukan banyak sekali kejanggalan soal perasaanku itu. bukan cinta, tapi ambisi untuk memiliki. ambisi untuk tidur lelap dalam dadamu.

di pinggir sungai kecil aku mengecipakkan seluruh resah, kuhanyutkan beberapa helai sedihku sambil menghujani pipi. sesekali kuseka puisi yang mengalir pula di sana.

getir. seperti cerita kita, yang mati tiba-tiba.

Dengarlah, konon Cinta Tanpa Batas.

Dalam Perjalanan

Published June 14, 2013 by eqoxa

duduklah pada sebuah taman yang tak begitu ramai. dengarkan angin mencumbu daun, burung menari berkejaran, dan segala keindahan yang membuatmu muntah saat mengucapkannya namun hangat dalam dada.

saat jatuh cinta kau akan dua ribu kali lebih melankolis dan puitis dari dirimu yang biasa, bukan karena kesambet setan atau apa, tapi memang begitulah caramu menunjukan pada dirimu sendiri bahwa kau sedang tergila-gila pada rasa dalam dadamu.

Saat tidak sedang jatuh cinta kau akan merasa segalanya tak indah, pacarmu yang ternyata tak punya apa-apa, tak setampan atau tak secantik saat kau pertama mencintainya, atau bahkan banyaknya ketidak-cocokan yang menjadi-jadi muncul sebab kau sedang menggunakan logikamu. tadinya buta.

menyalahkan diri pada kebodohan “kenapa-dulu-aku-bisa-jatuh-cinta-padanya-?” hanya akan membuang waktu dan membuat benakmu penuh pada hal-hal basi yang mengganggu kejernihan air pikiran. dan kau menyebabkan banjir di hulu matamu.

manusia jarang menyombongkan cinta yang dimilikinya, tapi seberapa hebat ia bisa menghadiahi pacarnya, seberapa hebat seks mereka di ranjang, dan seberapa lama hubungan itu bertahan. sedangkan cinta lebih sederhana dari pada itu, misalnya seberapa sering ia memahami pandangan-senyuman-dan-diamnya sang kekasih, atau seberapa sering mereka menikmati waktu menyenangkan untuk tertawa bersama, dan seberapa dalam pelukan yang sanggup menenangkan kegundahan satu sama lainnya. dan saling mendinginkan saat amarah merajalela. saling membahagiakan.

semoga aku menemukan pagi  yang membawakanmu padaku, seorang kekasih yang saling menerima dan melengkapi. aku menunggu Tuhan kabari.

Selamat pagi.

Sajak Cinta

Published April 3, 2013 by eqoxa

Aku ingin menjadi daun, yang bebas jatuh ke tanah tanpa merasa sakit di jantungnya. ~ @ikavuje

Siapa lebih pagi dari puisi? Tak ada. Ialah detik-detik suara jam yg membangunkanmu, terbit lebih pagi dari matahari. ~ @ikavuje

Mari saling menghitung keriput di wajah. Sambil bercerita bagaimana kita telah menua sementara cinta kian dewasa. ~ @ikavuje

Nanti, bila bulan terpejam, berpura-puralah lelap tidur, aku ingin membetulkan selimut dan mencium keningmu ~ @ikavuje

Pada hari perpisahan, kita akan tersenyum melambaikan tangan. Dada kita telah sepi dari segala kepedihan ~ @ikavuje

Suatu hari kita bergantian mencabut uban di kepala, ditemani lagu cinta yang ikut menua. Percayalah — cinta akan tetap muda ~ @ikavuje

Aku enggan membicarakan rindu, malam datang diam – lampu telah padam. ~ @ikavuje

Matamu ialah cahaya kelembutan, yang berbinar meski lampu kamar telah kita redupkan ~ @ikavuje

Masa tua kita adalah film hitam dan putih, kau dan aku yg duduk menonton pelangi di langit selepas hujan — berpelukan ~ @ikavuje

Aku persiapkan banyak sofa nyaman, di tiap sudut ruangan. Agar kau betah dan tak cepat kelelahan, mencintaiku. ~ @ikavuje

Sobekan karcis, dan koper-koper kubiarkan tergantung, aku tak akan pernah kemanapun, dari hatimu ~ @ikavuje

Sepatu tua, mondarmandir menunggu pasangannya, yang dipakai anak kecil bermain mobilmobilan. ~ @ikavuje

Kau tak akan menjadi miskin, meski menghadiahiku sajak tiap hari ~ @ikavuje

Tak apa uang belanja tak seberapa, asal kau pulang tanpa bekas lipstik di kerah kemeja ~ @ikavuje

Dan malam akan mengatupkan mulut para penyanyi, agar mendengar burungburung menyanyikan pagi; membangukan bumi ~ @ikavuje

Sudahlah tak usah sok romantis, rokok dan makanmu tidak gratis ~ @ikavuje

Tuan, gerakan tubuhmu pelan-pelan, awas pecah berjatuhan, Kaca-kaca yang kutitipkan, di dadamu ~ @ikavuje

• Cahaya mungkin runtuh dan bintang jatuh, tapi siang malam bagiku sama saja; aku masih mencintaimu dan terus begitu ~ @ikavuje

Esok pagi kau hendak memakai kemeja yang mana? Aku sedang menyetrika, sambil memandangimu yang asik membaca ~ @ikavuje

Suami bijak, taat sajak ~ @ikavuje

Diam kau, kutampar nanti rindumu itu, dengan bibirku ~ @ikavuje

Jangan tergesa menciumku, nanti kenanganmu terbangun, memeluk kesedihanmu ~ @ikavuje

Sesekali kukenakan jaket di belakang pintu, bila rindu pelukanmu ~ @ikavuje

kita adalah rindu yang merindang, pada jarak yang membentang kekang ~ @ikavuje

Seperti biasa, aku jatuh cinta padamu. Yang luar biasa, aku tak pernah jenuh, berkali-kali jatuh cinta kepadamu, seperti itu. ~ @ikavuje

Cinta ialah yang tak pernah kumengerti bagaimana ia membuat engkau dan aku bisa begitu saling mengerti ~ @ikavuje

duapuluhlima sajak

Published April 3, 2013 by eqoxa

Sajakku memang jelek, tapi aku tidak mencontek. ~ @ikavuje #25

Pulanglah ke dada ibumu yang rumah, suatu saat, ketika kau lemah ~ @ikavuje #25

Kesetiaan, daun tua mengering yang bersitahan di dahan, lalu jatuh terbaring di tanah. Seperti aku, padamu ~ @ikavuje #25

Di bawah pohon kulihat kita duduk berdua. Kau sibuk membaca – sedang aku berdoa: agar buah-buah yg baik jatuh dlm hidupmu. ~ @ikavuje #25

Apa yang kubayangkan tentang masa depan ialah senyummu, yang lebih cerah dari pagi ini ~ @ikavuje #25

Cinta tanpa batas, kau-aku dan segala rindu yang menyala, pada tempat menganga yang mereka tak bisa melihatnya ~ @ikavuje #25

Cintakitalah yang akan tetap sempurna menjaga perasaan kehilangan, saat tangan kita tak saling bergenggaman ~ @ikavuje #25

Terima kasih karena telah menghabiskan masakanku yang terlalu asin, demi kamu, aku akan belajar memasak lebih rajin ~ @ikavuje #25

Suatu hari kita akan berbagi lemari, agar lengan kemejamu menggandeng pinggang gaunku — saling mengenali ~ @ikavuje #25

Nanti bila kita sah seranjang, telungkup-telentang, berpiyama atau telanjang, temani aku begadang, sayang ~ @ikavuje #25

Sebenarnya, aku selalu menunggumu menuliskanku puisi, seperti menunggu matahari agar jemuranku kering setiap hari ~ @ikavuje #25

Sambil menyetrika kemeja, entah senyum atau air mata, yang membuatnya semakin mudah dilipat, juga selalu teringat ~ @ikavuje #25

Sayang, hari ini kita makan di luar, aku pulang lebih cepat, kau tak usah ke pasar, hanya pakailah kaosmu yg ketat ~ @ikavuje #25

Mungkin suatu hari, kesedihan akan jadi temanmu satu-satunya, maka tersenyumlah kepadanya ~ @ikavuje #25

Segala gurauan itu menyenangkan, kecuali yang kau lakukan saat kau ungkapkan perasaan, kepadaku ~ @ikavuje #25

Aku sedang menghitung rindu yg kutabung selama kecemasan dan kesabaran ini, dan menyerahkan seluruhnya hanya padamu ~ @ikavuje #25

Kalau baju tak ada yang kering, kau boleh pakai dasterku, tenang, tak akan ada yang kuberi tahu ~ @ikavuje #25

Ajarkanlah kelembutan pada hatimu, kelak ia akan menemukan surga ~ @ikavuje #25

Nanti kalau aku hamil, belikan aku daster berwarna ungu dan ada pitanya, lalu cium keningku setiap kau berangkat kerja ~ @ikavuje #25

Cintaku menyala, sengaja kuletakkan pada kedua bola mata, agar kau mudah menemukannya ~ @ikavuje #25

Pakaianmu sudah kucuci, jemur dan setrika. Peluk dan ciumlah aku nanti sepulangmu bekerja ~ @ikavuje #25

Aku akan terjaga, selama kau masih betah membaca mataku yang sajak, dan kau berdebar menduga-duga apa maknanya. ~ @ikavuje #25

Ciumanku murah, merayuku yang mahal ~ @ikavuje #25

Cintaku padamu adalah lembah yang tak akan pernah menemukan dasarnya, kau akan terbenam, bila mejelajahi sendiri ~ @ikavuje #25

Cahaya mungkin runtuh dan bintang jatuh, tapi siang malam bagiku sama saja; aku masih mencintaimu dan terus begitu ~ @ikavuje #25

 

by: @Sajak_Cinta