nonfiksi

All posts in the nonfiksi category

Ada Apa dengan Habibie?

Published July 27, 2016 by eqoxa

Masih adakah orang di Indonesia ini yang tak kenal Habibie? Saya rasa hanya segelintir. Sebab beliau adalah seorang tokoh bangsa, yang menurut saya, bisa disejajarkan dengan pejuang kemerdekaan. Lihat saja semua gelar yang beliau miliki, menunjukan betapa cerdas dan gigihnya beliau dalam menimba ilmu. Dan tak mudah menjual karya atau ilmunya kepada bangsa asing.

Sempat menjabat sebagai presiden ke-3 di Indonesia tak menjadikan pribadinya berubah. Kalau jam tidur mungkin iya (saya sih cuma menebak-nebak saja dalam hal ini). Presiden memang jarang tidur nyenyak itu iya atau enggak, sih? Mungkin iya, ya. Ya tapi kalau beneran mikirin negara dan rakyatnya, sih, pasti jadi kurang tidur. Nanti kalau ketemu pak Habibie, bakal saya tanyakan soal ini deh (penting banget, sis?).

Dalam kepemimpinan beliau, tak ada lagi pribumi atau non pribumi, Indonesia itu benar-benar jadi satu. Satu bangsa. Habibie jugalah yang memberikan kita hak kebebasan berpendapat terhadap pemerintah, mengajarkan tentang demokrasi yang sesungguhnya. Selain itu, proses pemilihan umum dan penghitungan suara pun dilakukan dengan lebih terbuka. Dengan cepat beliau mengubah peraturan, agar bisa langsung diaplikasikan di pemilihan berikutnya. Sayangnya beliau terlalu baik, akibatnya tak terlalu banyak yang mau dan berani mendukung beliau. Akhirnya beliau mundur dan kita tidak bisa melihat kepemimpinan beliau lebih lama di Indonesia. Selain itu beliau juga bikin pesawat, pesawat pertama buat Indonesia.

“Politik itu penting lho untuk dipelajari, ya, minimal diketahui beritanya..”, begitu kata teman saya. “..karena politik mempengaruhi naik-turunnya harga sembako dan tarif transportasi.”, lanjutnya lagi. Sebab itu sedikit-sedikit saya mulai membaca berita politik, salah satunya tentang presiden-presiden yang pernah menjabat di Indonesia.

Sebagai orang awam yang tak begitu paham politik seperti saya ini, Habibie itu keren. Karena saya yakin, hidup beliau sudah enak dan nyaman di luar negeri sana, sangat dihormati dan diakui kredibilitasnya, bahkan mungkin (maaf) lebih besar gajinya. Ngapain cari masalah pulang ke Indonesia? Padahal untuk seorang Habibie, beliau bisa memilih untuk jadi EGP (Emang Gue pikirin) aja. Ada apa dengan Habibie? Tak lain tak bukan adalah karena beliau cinta negeri ini, beliau adalah seorang professor yang diinginkan oleh negara lain, namun ia memilih untuk rela meninggalkan mimpinya (yang meskipun pada akhirnya justru tak begitu banyak orang lain yang bisa melihat atau menghargai perjuangannya itu). Meskipun begitu beliau tak patah arang membangun negeri ini dengan caranya sendiri, terlihat dari banyaknya bantuan yang diberikan kepada anak yang tak mampu, dalam bentuk panti asuhan dan beasiswa. Bentuk kepedulian beliau terhadap generasi masa depan yang mungkin saja, keberhasilannya terbentur biaya pendidikan dan biaya hidup. Masih kurang?

Istrinya yang cantik dan cerdas itupun ibaratnya sosok di balik rahasia sukses beliau. Bagaimana tidak, ibu Ainun selalu setia mendampingi sang suami dalam keadaan apapun, mengikuti dengan kepercayaan dan semangat penuh demi kesuksesan beliau, hingga akhir hayatnya. Kisah cinta mereka tentunya, menjadi inspirasi bagi mereka, yang mungkin mencari-cari tahu arti kata setia, cinta sejati di dalam kehidupan nyata. Dengan cinta yang besar itu barangkali, Habibie menjadi pecinta juga, melakukan hal-hal inspiratif yang tak kasat mata, yang belum bisa dilakukan orang lain selain beliau, demi kemajuan bangsa.

image

Sumber foto: http://www.hipwee.com

Saya semakin tertarik dengan Habibie (selain karena film dan buku beliau), juga karena fakta-fakta yang nyata, yang sudah diaplikasikan hingga saat ini. Detik-Detik Yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi adalah buku yang bisa menjadi renungan panjang bagi siapapun yang sebelumnya menutup mata, tidak peduli dengan apapun yang terjadi di Indonesia menjadi bertambah wawasannya, melihat bahwa kita benar-benar tak boleh berhenti berjuang dan berharap untuk memajukan negeri ini.

Barangkali anda tertarik mencari tahu hal-hal tentang Habibie lainnya? Yuk, ikut saya melihat pameran foto Habibie dan gebyar aneka lomba yang diselenggarakan berbagai komunitas yang tergabung dalam Friends Mandiri Museum. Pameran ini dibuka untuk umum mulai 24 Juli 2016 hingga 21 Agustus 2016 di Museum Bank Mandiri, Kota Tua – Jakarta Barat. Barangkali setelahnya, anda bisa mendapat inspirasi, dan terpilih menjadi presiden berikutnya. Berani?

 

#Habibie80

Advertisements

I Choose Love

Published March 24, 2016 by eqoxa

   

 

Lipstik barangkali sekadar barang mungil yang tak begitu berarti di mata pria. Tetapi beda dengan wanita, lipstik adalah energi dan ekspresi diri yang nyata. Perempuan mencintai lipstik seperti temannya sendiri. 

Ada ratusan warna lipstik yang bisa menyesuaikan wanita dengan busananya, acaranya atau bahkan emosinya. Ekspresi yang dihasilkan dari warna yang berbeda maka efeknya pun berbeda, ada kalem, ada feminin lembut, ada liar bahkan menyeramkan. Salah pilih lipstik, justru bisa menjadikan wajah anda tidak menjadi cantik, malah berantakan.

Saya juga adalah penggemar lipstik dengan banyak warna, terutama matte, sesuai kepribadian saya yang ekspresif dan ceria tapi sedikit kikuk. Seperti Rabu 23 Maret 2016 kemarin saya diundang untuk datang di acara Choose Love Revlon dalam peluncuran lipstik baru mereka Revlon Ultra HD Matte Lipcolor di Atrium Mall Taman Anggrek.

Diawali dengan registrasi dan foto-foto di sana-sini. Ada banyak booth juga untuk main games dan juga gratis dandan buat yang berbelanja dengan harga tertentu.

   

Kartu registrasi saya yang keren.

  

Saya di salah satu booth foto.

 

Ada juga games seru seperti di foto, yang memenangkan nilai tertentu bisa dapat diskon.

  Saya dan teman-teman yang sibuk mencoba semua jenis warna baru Ultra HD Matte Lipcolor Revlon lalu foto bersama.

Dengan misi mereka yang sangat universal ini bapak Phillips Gunawan menyampaikan tentang produk Revlon ini, bagaimana agar wanita lebih mencintai dirinya dan mampu menunjukan cinta ke sekitarnya, sangat menarik dan meriah. Acara yang dipandu oleh mbak Ivy Batuta yang cantik ini sangat simple dan penuh cinta, dan sangat wanita sekali.

  
Penasaran dengan temanya ini saya duduk anteng dengerin mbak Shiny ngobrol sedikit sejarah dan kampanye mereka yaitu Choose Love. “Kita harus meng-encourage perempuan Indonesia agar lebih menunjukan cintanya kepada lingkungan dan meluangkan waktu untuk dirinya agar semakin percaya diri dengan Revlon.” pungkasnya.

  
Pilihan warnanya ada 8 yaitu Devotion, Obsession, Addiction, Temptation, Love, Seduction, Flirtation, dan Passion. “Semua tentang cinta temanya” Kata mbak Shiny.

Saya ikut mencoba sendiri karena warnanya sangat menggoda. Saya cobain Love. Sambil mengingat lagi, bahwa Revlon adalah brand pertama yang saya pakai saat pertama mengenal dandan. Mengenalnya sekian lama, tentu tak perlu khawatir lagi kualitasnya. Lipstik baru mereka yang Ultra HD Velvety Matte ini sangat lembut di bibir dan wanginya menggoda sekali, apalagi untuk saya yang punya bibir kering dan gampang pecah-pecah, teksturnya memenuhi ruang di bibir yang biasanya retak kalau memakai lipstik matte biasa.

Di akhir acara semua undangan mendapat goodie bag yang membuat girang, yap 3 buah lipstik dalam kemasan yang cantik bisa dibawa pulang.

  Foto oleh Arinda


Oke, mulai hari ini, sepertinya Ultra HD Velvetty Mate lipcolor Revlon akan jadi lipstik andalan saya, harganya yang cukup terjangkau, 110K, pun semakin menambah minat saya. Bisa cantik segar dengan harga terjangkau pula, why not?

I Choose Love, Choose Revlon. 

Penulis HIJK – ku yang Rajin

Published March 12, 2014 by eqoxa
  1. Hari ke-1 “Jangan sembunyi” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/jangan-sembunyi.html … by @harumazizah
  2. Hari ke-2 “ Ibu…ibu…ibu…” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/ibuibuibu.html … by @harumazizah
  3. Hari ke-3 ” Ayah…” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/ayah.html … by @harumazizah
  4. Hari ke-4 “Untuk pria dengan angka 21” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/untuk-pria-dengan-angka-21.html … by @harumazizah
  5. Hari ke-5 ” (Hanya) Sahabat” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/hanya-sahabat.html … by @harumazizah
  6. Hari ke-6 “Dear Pilihan” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/dear-pilihan.html … by @harumazizah
  7. Hari ke-8 ” Mulut Manis itu” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/mulut-manis-itu.html … by @harumazizah
  8. Hari ke-9 “Selamat mbakku tersayang” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/selamat-mbakku-tersayang.html … by @harumazizah
  9. Hari ke-10 ” Kepada lelaki” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/kepada-lelaki.html … by @harumazizah
  10. Hari ke-11 ” Senja Romantis” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/senja-romantis.html … by @harumazizah
  11. Hari ke-12 ” Hari itu” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/hari-itu.html … by @harumazizah
  12. Hari ke-13 “Tulisan untuk tulisanku” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/tulisan-untuk-tulisanku.html … by @harumazizah
  13. Hari ke-15 “Untuk yang kemarin meminta cokelat” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/untuk-yang-kemarin-meminta-cokelat.html … by @harumazizah
  14. Hari ke-16 “Sabar ya,nduk..” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/sabar-yanduk.html … by @harumazizah
  15. Hari ke-17 “Che’07” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/che.html … by @harumazizah
  16. Hari ke-18 ” Naik agya kemana kita” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/naik-agya-kemana-kita.html … by @harumazizah
  17. Hari ke-19 “Cepet sembuh ya..” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/cepet-sembuh-ya.html … by @harumazizah
  18. Hari ke-20 “Ipajipora” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/ipajipora.html … by @harumazizah
  19. Hari ke-23 “Untuk Kau,Aku di Masa Kecil” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/untuk-kauaku-di-masa-kecil.html … by @harumazizah
  20. Hari ke-24 ” Kepada Pengendara di Jakarta” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/kepada-pengendara-di-jakarta.html … by @harumazizah
  21. Hari ke-25 “Untuk yang Membuatku Menangis” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/untuk-yang-membuatku-menangis.html … by @harumazizah
  22. Hari ke-26 “Kuatlah,Sep..” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/kuatlahsep.html … by @harumazizah
  23. Hari ke-27 “Teruntuk Pagi” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/teruntuk-pagi.html … by @harumazizah
  24. Hari ke-29 “Yang Tercinta,Ibu” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/03/yang-tercintaibu.html … by @harumazizah
  25. Hari ke-30 “(Bukan) Surat Terakhir” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/03/bukan-surat-terakhir.html … by @harumazizah

Total 25 Surat tanpa menghitung surat kaleng

  1. Hari ke-1 “Kepada, Cinta” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/kepada-cinta.html … by @ismarestii
  2. Hari ke-2 “Surat Salah Alamat” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/surat-salah-alamat_2.html … by @ismarestii
  3. Hari ke-3 “Dua Kali Dua” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/dua-kali-dua.html … by @ismarestii
  4. Hari ke-4 “Secret Letter (No More)” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/secret-letter-no-more.html … by @ismarestii
  5. Hari ke-5 “Surat Permohonan” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/surat-permohonan.html … by @ismarestii
  6. Hari ke-6 “Surat untuk Karissa” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/surat-untuk-karissa.html … by @ismarestii
  7. Hari Ke-8 “Akan Ada Saatnya” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/akan-ada-saatnya.html … by @ismarestii
  8. Hari ke-9 “Surat Kilat untuk Hujan” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/surat-kilat-untuk-hujan.html … by @ismarestii
  9. Hari ke-10 “Tentang Surat Bahagia” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/tentang-surat-bahagia.html … by @ismarestii
  10. Hari ke-11 “Halo, Orang Asing!” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/halo-orang-asing.html … by @ismarestii
  11. Hari ke-12 “Peringatan!” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/peringatan.html … by: @ismarestii
  12. Hari ke-13 “(Bukan Lagi) Surat Cinta” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/bukan-lagi-surat-cinta.html … by @ismarestii
  13. Hari ke-15 “Surat Kaki Kanan untuk Kaki Kiri” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/surat-kaki-kanan-untuk-kaki-kiri.html … by @ismarestii
  14. Hari ke-16 “Singkat Saja” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/singkat-saja.html … by: @ismarestii
  15. Hari ke-17 “Untuk Si Keras Kepala” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/untuk-si-keras-kepala.html … by @ismarestii
  16. Hari ke-18 “Bim… Biiimmmm…!” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/bim-biiimmmm.html … by @ismarestii
  17. Hari ke-19 “Bukan Pahlawan” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/bukan-pahlawan.html … by @ismarestii
  18. Hari ke-20 “Membiasakan yang Biasa” http://ismapratiwi.blogspot.com/  by @ismarestii
  19. Hari ke-22 “Pelajaran-pelajaran Kecil” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/pelajaran-pelajaran-kecil.html … by @ismarestii to @Dwi_Boboiboy
  20. Hari ke-23 “Tentang Kangen” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/tentang-kangen.html … by @ismarestii
  21. Hari ke-25 “Dari Si Ekstrovert untuk Introvert http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/dari-si-ekstrovert-untuk-introvert.html … by @ismarestii
  22. Hari ke-26 “Tentang Menjadikanmu Guru” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/tentang-menjadikanmu-guru.html … by @ismarestii
  23. Hari ke-27 “Penting Bagimu” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/penting-bagimu.html … by @ismarestii
  24. Hari ke-29 “Sebentuk Ungkapan Terima Kasih” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/03/sebentuk-ungkapan-terima-kasih.html … by: @ismarestii
  25. Hari ke-30 “Untukmu, dan Hujan Hari Ini” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/03/untukmu-dan-hujan-hari-ini.html … by @ismarestii

Total : 25 surat tidak termasuk surat kaleng

untuk diikutsertakan dalam projek #30HariMenulisSuratCinta -nya @Poscinta

Selamat ya 😀 kalian hebat. Buat yang mau baca, silakan loh

Mengenang Suatu Hari #Dayak

Published March 11, 2014 by eqoxa

“Kimong! Ayok main lereng !” Teriakku.
“Ayok!”

Usiaku masih kecil sekali saat di Kalimantan Timur. Sebuah kota kecil, Long Ikis namanya. Di sini banyak sekali teman-temanku suku Dayak. Salah satu yang akrab, namanya Kimong.

Keluarga Kimong memang lumayan dikenal di desa ini, desa Amuntai (dulu namanya Semuntai), wajar, karena ayahnya adalah seorang dukun yang dipercaya masyarakat sekitar.

Namaku Mei, masih kelas 3 SD aku saat mengenal Kimong ini. Adiknya Kimomi sekelas dengan adikku. Aku dan Kimong memang tak begitu akrab, kecuali soal main sepeda sore-sore.

Suatu hari pulang sekolah aku terlambat dijemput papa. Akibatnya, aku sendirian di sekolah. Kimong dengan sepedanya datang menghampiriku.
“Ayo, pulang denganku saja, nanti ayahmu biar menjemput kerumahku.” Katanya

Aku mengiyakan saja ajakannya. Duduk di boncengan belakang, ia mengayuh dengan baik sampai ke rumahnya.

Rumahnya yang kulihat memang unik. Dan aku memandangnya kagum sekaligus bergidik. Kelam dan sakral, ya mungkin begitulah seingatku rumahnya itu. Banyak ukiran patung dan bulu-bulu elang yang telah menguning bertaburan di halaman sampingnya. Di sisi kanan rumahnya ada pintu kecil, selain pintu utama, untuk kami masuk. Sebelumnya kami melewati dua buah gentong kaleng besar, “tempat menampung air hujan”, kata Kimong.

Masuk ke dalam rumahnya aku tak merasa beda apa-apa. Lantainya tetaplah tanah. Ya, memang bentuknya lebih rapi. Tapi tetap saja tanah. Dinding rumahnya yang tipis membuat aku yakin, Kimong pasti kedinginan sepanjang malam.

Di ruang tamunya banyak sekali piring-piring tergeletak yang berisi bunga warna-warni dan jeruk-jeruk. Juga ada sebuah guci kecil yang mengeluarkan asap berbau aneh, yang akhirnya kutahu namanya “kemenyan”.

Kimong mengajakku ke ruang tengah. Di sana ada perempuan yang telinganya menjuntai hingga bahu, dan memanggilnya ibu. Seperti ajaran ibuku, tiap bertemu orang yang lebih tua, ciumlah tangannya. Maka, kucium tangannya, tanda hormat. Ia menyediakan sepiring pisang goreng yang nikmat sekali, dan segelas teh manis untuk perut kecilku yang lapar.

Hari semakin malam. Aku mulai gelisah. Mengapa papa belum juga menjemputku? Apa dia tak tahu rumah Kimong? Ah, sebaiknya aku kembali saja kesekolah, siapa tahu papa menunggu di sana.

Kimong dan orang tuanya tak setuju. Aku tak akan dibiarkan pergi sendiri ke sana untuk menemui papa. Aku semakin gelisah, meski kata ayahnya – aku akan diantarkan pulang. Tapi aku takut padanya, matanya seperti menguliti seluruh isi hatiku.

Kimong menunjukkan kamarnya. Kamar kecil yang hanya ada lentera kecil di dalamnya. Tidak ada TV, tidak ada radio. Hanya kamar lusuh yang terdiri dari lemari dan meja belajar reyot yang memenuhinya.

Aku tersenyum datar. Dalam hati aku mensyukuri apa yang ada di kamarku di rumah. Dan semakin gelisah ingin pulang, karena jam menunjukan pukul sembilan kurang.

Saat itu tak ada telepon, tak seperti zaman sekarang. Aku juga masih terlalu kecil untuk kemana-mana sendirian. Tapi aku sedikit merasa bersalah. Sebab aku berjanji pada ibuku, akan tetap berada di sekolah apabila papa terlambat menjemput. Dan mataku mulai basah.

Ayah Kimong menghampiriku. Matanya tidak sama, kini ramah sekali. Aku serasa tak percaya, berbeda sekali dengan ia yang sebelumnya.
“Mari, saya antarkan pulang. Papamu masih rapat di kantor.” Katanya

Kami berboncengan naik sepeda. Kali ini sepedanya lebih besar dari milik Kimong. Ternyata paman ini tidak jahat, tidak seseram yang kusangka sebelumnya. Sepanjang jalan ia menceritakanku dongeng tentang si kancil pencuri timun. Cara ia bercerita lucu sekali, aku terpingkal-pingkal mendengarnya.

Tak lama kami pun tiba di rumahku. Ibu menyambut dengan wajah lega. Ia mengundang masuk ayah Kimong, namun ditolak dengan lembut, karena ia buru-buru menuju tempat lain. Aku melambai padanya dengan senyum ceria.

“Sampai jumpa paman, hati-hati.” Teriakku saat ia mengayuh sepedanya menjauh.

Ibu hanya memandangiku tersenyum,
“Bagaimana petualangan kakak hari ini?” Katanya.
“Seru dan menegangkan!” Jawabku.

Sejak hari itu, aku dan Kimong semakin akrab. Cerita persahabatan kami terpaksa terhenti saat aku naik ke kelas 5. Orang tuaku dipindah – tugaskan ke Sumatera. Terpaksa, aku pun pindah sekolah.

Cerita kami habis sampai di situ. Tak pernah sekalipun aku mendengar kabar tentangnya lagi. Seandainya bisa, ingin lagi aku ke sana. Barangkali bisa bertemu Kimong yang telah menjadi pria dewasa.

 

*lereng : sepeda

 

Diambil dari blog fogvuge.wordpress.com