Cinta Tidak Hanya Merah Jambu (2)

Published March 2, 2018 by eqoxa

“Halo?”

“Kana?”

__

Persahabatan Kana dan Anggri sudah sejak mereka umur 5 tahun. Sebagai keluarga yang tak punya tetangga, hanya Anggri satu-satunya teman yang sering diajak main ayah Kana ke rumah mereka, sebab ayah Anggri adalah sahabatnya. Suka sekali mereka mengajak Kana dan Anggri pergi memancing. Kebiasaan ini terus berlanjut hingga suatu hari ayah Anggri berpulang karena penyakit yang sudah lama diidapnya. Sejak saat itu, tak pernah lagi ada kegiatan memancing.

Sejak kecil, Kana memang tak pernah mengalah. Padahal ia lah yang paling sering menangis kalau Anggri tak datang satu hari saja ke rumahnya. Sejak tak pernah memancing lagi, Anggri sering dititipkan ke rumah Kana. Ibunya harus bekerja dan tak ada siapapun yang menjaga Anggri. Selayaknya anak kembar, mereka tak bisa dipisahkan satu sama lainnya.

Usia terus bertambah. Kana bagaikan matahari yang terang, begitu cemerlang karena kecerdasannya. Anggri yang pendiam, terus saja begitu hingga ia remaja. Bahkan semakin tertutup dan susah bergaul dengan orang lain. Rasa minder yang berlebihan membuat ketampanannya bersembunyi di balik kacamata yang tebal dan kebiasaannya berjalan kikuk.

Entah berapa kali Kana patah hati dan putus cinta. Anggri lah tempat bersandarnya, bahunya yang kokoh itu tempat Kana menangis meraung-raung ketika pacar pertamanya; Laksmana, ketahuan membelikan perempuan lain boneka beruang bertuliskan “I love you“. Belum lagi Bagas, Sigit, Faris dan beberapa nama lainnya yang ujung-ujungnya hanya membuat Kana patah hati dan menangis di bahu Anggri.

Anggri yang kaku dan bingung memperlakukan wanita hanya bisa diam sambil membiarkan Kana meracau. Tak sepatah-kata pun keluar dari mulutnya, tak pula mengeluarkan kata apapun untuk menyabarkan Kana. Tidak, sebab Kana tak suka kata itu. Malah akan dibentak pula dia nanti.

Begitulah terus waktu berselang dengan segala drama percintaan Kana yang tak pernah berakhir bahagia. Meskipun Anggri tahu, bahwa Kana sebenarnya sangat cerdas, tapi tidak soal percintaan. Terlalu mudah ia untuk dirayu, hatinya rapuh pada puisi dari lelaki yang tak logis dan sangat gombal kalau menurut Anggri. Tapi Kana selalu buta, tuli dan bisu jika telah jatuh hati.

***

Pada musim hujan yang berkepanjangan, kota ini menjadi sangat dingin. Semakin dingin ditambah kepergian ibu Kana kembali ke Tuhannya. Kana demam berminggu-minggu lamanya. Seolah ingin ikut mati, ia tak mau makan apapun hingga lemah dan rapuh. Itulah kali pertama kalinya Anggri meneteskan air mata untuk seseorang selain ayah dan ibunya. Ia tak kuat melihat kesedihan yang dialami perempuan itu. Sebab Ibu Kana telah dianggapnya ibunya juga.

Ayah Kana berencana menikah kembali setelah dua tahun kepergian ibu Kana, baginya, menikah itu hanyalah agar Kana ada yang memperhatikan. Sikapnya yang keras kepala dan egois karena menjadi kesayangan satu-satunya bagi sang ayah semakin menjadi-jadi. Sehingga ayah dan anak ini menjadi tak begitu akur. Anggri yang setia pun menjadi bulan-bulanan keegoisan sikapnya. Telah salah mereka mendidiknya. Terlalu dimanja.

Tak berapa lama waktu yang dibutuhkan ibu Anggri untuk bertahan. Ia telah sakit-sakitan karena bekerja terlalu keras untuk menghidupi anak-anaknya. Anggri hanya punya dua adik perempuan yang juga turut dibesarkan ibunya. Akhirnya ia menyerah pada sakit jantung yang merenggut nyawanya tiba-tiba pada suatu malam di bulan Desember, tepat satu hari sebelum ulang tahun Anggri.

Anggri seperti sedang dicabut kulit dari tulangnya. Pedih dan sedih yang tak bisa dijelaskan kata.

Kana ada di sana, memeluknya. Menangis lebih terisak daripada Anggri, membahasahi punggung baju yang dipakai Anggri hari itu. Kana memintanya untuk kuat dan jangan menangis. Anggri berjuang sekuat tenaga untuk tak meneteskan air mata sedikitpun di hadapan Kana. Sampai saat akhirnya ia menutup kain kafan untuk melihat wajah ibunya terakhir kali, ia sudah tak kuat lagi.

Berjalan ia menjauh dari Kana, tak terarah, dan terus berjalan sehingga kelelahan ia sampai di hutan pinggir kota dan ditumpahkannya air matanya. Kana mengerti, ia tak akan mengganggu Anggri sementara waktu.

Sejak itu, Anggri sendirilah yang harus bekerja banting tulang membesarkan adik-adiknya. Pemuda yang pendiam ini semakin sibuk dan hampir tak punya waktu untuk Kana. Ayah Kana memberikan referensi padanya untuk magang di kantornya, agar mendapatkan uang bulanan untuk biaya sekolah. Itupun malam hari ia harus lanjut bekerja paruh waktu menjadi pelayan di restoran untuk membeli baju sekolah dan buku.

Tapi hanya sebentar. terjadi kecelakaan saat mereka hendak mengunjungi paman mereka di kampung. Saat itu, Anggri pun terluka parah hingga koma sebulan lamanya. Keluarga Kana mengambil alih pengobatan itu. Tapi kedua adiknya tak bisa diselamatkan.

“Ayah, kapan Anggri bangun?” katanya sambil terisak.

“Kana harus kuat, Kana harus berdoa.” jawab ayahnya. Kali ini mereka sudah tak sering lagi beradu argumen. Peristiwa yang dialami Anggri membuka mata Kana. Tak terbayang jika harus sendirian di dunia ini tanpa siapa-siapa. Hanya ayahnya yang kini dimilikinya.

Sambil mengusap air matanya, Kana berkata “Iya ayah, Kana akan kuat. Anggri pasti bangun.”

 

***

“Kana? Kana?”

 

 

Bersambung

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: