Archives

All posts for the month February, 2018

Cinta Tidak Hanya Merah Jambu

Published February 25, 2018 by eqoxa

Sepanjang jalan yang Kana pernah lewati, hanya ada daun-daun saling berbisik. Matanya awas dan menduga-duga apa yang sedang mereka bicarakan. Barangkali saja ada yang tertangkap telinga. Kepalanya sibuk dengan ini-itu yang berantakan tak bertujuan. Gelisah akan entah apa yang akan dialaminya.

Berbuat salah itu hal yang lumrah bagi manusia, kadang malah bukan hanya sekali. Tetapi Kana tidak sadar dengan kesalahan yang sudah berjuta kaliĀ  dilakukannya pada Anggri. Lelaki itu memang punya sabar berjuta kali lipat pada sikap sembrono Kana kepadanya. Marah, kesal, diam, bentak, maki, oh … tapi terakhir kali, Kana melemparkan hadiah berbungkus kado merah jambu dari Anggri hingga terjatuh ke kakinya, hanya karena ia tak suka warna bungkusnya. Anggri mengambil kado itu dan meninggalkan Kana tanpa berkata apapun. Kana membatu.

Anggri tidak lagi meminta maaf seperti yang biasa dilakukannya. Ia bahkan tak mengirimkan Kana sedikitpun pesan. Kana dan kesombongannya yang sudah besar dan tak terurus itu tentu tak akan mengorbankan egonya hanya untuk menyapa Anggri lebih dulu, apalagi meminta maaf. Iya, Kana seangkuh itu.

Anehnya, Kana merasakan dadanya sakit. Dunianya lalu mendadak terpusat hanya kepada kata “Ada apa dengan Anggri?”, “Kemana Anggri?”, “Apa Anggri benci sama gue?” dan lainnya yang berkaitan dengan hilangnya Anggri dari segala aktivitas Kana sepanjang hari. Kana mencoba untuk tetap angkuh meskipun sebagian hatinya terus mendorong-dorong dua jempolnya yang berkuku biru itu untuk menekan tombol “Panggil” pada nomor telepon Anggri. Sungguh drama.

“Wajar, sih” begitu sesal Kana pada dirinya sendiri setelah lebih dari seminggu Anggri tetap tak muncul juga di hadapannya. Mendadak semua kelakuannya yang menyebalkan kembali berkelebat dan membuat matanya berair. Ia telah sadar bahwa ia memang kurang ajar pada Anggri. Tapi anehnya, egonya tak jua meluntur. Mulutnya tertutup rapat dan jiwanya belum bergeming untuk sekadar menyapa lebih dulu. Perempuan keras kepala.

Sempat sekali Kana tak sengaja melihat Anggri keluar kantornya dan berbicara riang dengan teman sekantornya, waktu itu kebetulan saja perempuan itu ia kenal. Itu Ana, teman sekantor Anggri yang juga adalah sahabat Kana. Darahnya berdesir di jantung dan berdetak lebih cepat dari biasa. Apakah mereka pacaran?

Sudah hari ke -17 sejak Anggri tak lagi bicara padanya. Kana belum terbiasa juga. Terlalu banyak dugaan, tanpa adanya konfirmasi. Kemauan bertanya seperti tertahan di mulutnya. “Nanti Anggri kirain gue naksir dia lagi.” Begitu pikir Kana. Padahal tanpa sadar, ia memang sudah sayang pada lelaki itu.

Teleponnya berdering, itu nada dering yang dibuatkan Kana untuk Anggri, karena ia dulu sangat benci kalau lelaki itu menghubungi, sehingga ia tandai agar tak usah dijawab. Kali ini rasanya beda, jantungnya berdebar dan pipinya panas. Tangannya dingin dan ia kebingungan harus bilang apa nanti.

“Halo?”

“Kana?”

 

Bersambung

 

 

Advertisements