Archives

All posts for the month February, 2016

Sampai Kita Jumpa

Published February 29, 2016 by eqoxa

Baru kemarin rasanya tanggal 1 Februari itu, kok hari ini sudah habis bulannya? Aku sering merasa waktu itu hampir sama cepatnya dengan cahaya. Buktinya banyak orang yang kemarin cinta, hari ini sudah tidak. Bukan, aku bukan curhat. Tapi bohong.

Cinta itu apa? Seorang penulis menanyakan padaku hal ini, menurutku cinta itu yang membuat rasa di dada, entah itu rasa pedih, ataupun bahagia. Maka cinta itu sebenarnya, biasa saja.

Para penulis surat cinta itu siapa? Aku pun tak kenal secara personal. Ada Anna, ada Yara, ada Tyas, ada Hana, ada Wilma dan yang lain yang tak sanggup kusebut satu-persatu namanya. Tapi aku kagum sekali dengan kegigihan mereka, itulah yang membuatku tiap hari bersemangat membaca dan mengantar surat mereka. Selesai membaca aku pasti selalu menebak-nebak akan menulis apa lagi mereka besok. Energi yang luar biasa. Aku mengaku kalah.

Cinta itu memang besar sekali, kecintaan mereka pada menulis itu yang aku maksud. Sebab jika tidak, maka semangatnya akan hilang di tengah bila euforia juga hilang. Mereka ini tidak. Mereka menuliskan cinta dengan rajinnya, dengan banyak sekali model cerita yang tak kutemui dalam hidupku, cinta yang kaya.

Surat ini menurutku bukan surat perpisahan, hanya jeda sejenak, sebelum kita bertemu lagi di cerita yang lain. Oh iya, aku ingin mengajak kalian, penulis keren, kencan menonton film bersama. Tanggal 26 Maret 2016 di Jakarta rencananya. Berminat? Jika iya, daftar denganku di twitter ya. Sampai kita jumpa!

 

Jakarta, 29 Februari 2016

Professor 

Published February 9, 2016 by eqoxa

Rambut sudah habis, kacamata lebih tebal dari kaca mobil tak tembus peluru punya Obama. Postur yang tak terlalu tinggi dan pendiam, itulah gambaran sedikit tentang pak Syafrizal, yang sama kurusnya seperti Bim-Bim, penggebuk drum di band Slank. Gak mirip banget sih. Tapi julukan itu sudah nempel banget sama si bapak, malah jarang ada yang ingat nama aslinya saking populernya nama itu.

Tapi di mataku dia ganteng. No bukan karena aku tertarik ingin jadi pacarnya, cuma aku kagum dengan ketekunannya. Guru. Iya. Profesi yang memang butuh nyali. Siapa berani, menghadapi ibuibu yang hobinya komplain setiap hari soal perkembangan anaknya? Siapa yang rela, harus menahan emosi tiap kali anak didiknya tak bisa diatur? Siapa yang mau, tidur tak tenang ketika musim kelulusan tiba? Ditambah gaji yang tak seberapa pula. Ya itu makanya dia kusebut ganteng. 

Aku tak tahu kabarnya sekarang. Pak BimBim yang pendiam tapi suka ketawa. Ketawa melihat tingkah polah muridnya. Ada yang malas, ada yang berisik, ada yang berantem, bahkan tidur. Aku heran, kenapa dia tak punya marah. Dia tetap ngajar, meskipun yang dengerin nyamuk. Hatinya pasti seluas bandara Changi.
Kalau nanti ketemu lagi akan aku salami dia, dengan jutajuta terima kasih pada pelajaran bahasa Inggrisnya yang kalem itu. Ngantuk pak, tidur dulu ya.
#30HariMenulisSuratCinta

Hari ke 7

Untuk Perempuan Surga

Published February 7, 2016 by eqoxa

Pulanglah ke dada ibumu yang rumah, suatu hari bila kau lelah.

Itulah yang terbesit dalam tulisanku ketika mengingatnya. Perempuan lemah yang paling kuat di seluruh dunia. Memilikimu adalah berkah yang tak hingga. Aku mencintaimu meski seringkali yang tersampaikan bukan itu.

Aku ingin membuatkanmu rumah mewah dari doadoaku yang kukumpulkan tanpa setahu engkau, tapi sampai di Tuhan. Panjang sekali doadoa itu sehingga membentuk dinding, jendela, lantai dan atap yang terbuat dari emas. Di sana, kau akan menjadi yang bahagia ibu.

Aku tak punya uang banyak untuk membelikannya di dunia, maaf. Aku hanya pekerja yang terlalu sibuk mengumpulkan materi, bahkan menghubungimu tak sempat. Maaf ibu, luka pasti hatimu itu. Padahal saat membesarkanku, apapun kau tak sempat. 

Ibu. Suratku sudah dulu, doamu jangan berhenti mengalir untukku. Seperti air mataku mengaliri pipi, tiap kali aku mendoakanmu.

Jakarta, Februari 2016

Si (Sok) Sibuk

Published February 7, 2016 by eqoxa

“Mana ada lakilaki yang mau jadi pacarmu, mengurus diri sendiri aja gak sempat begitu.” – Temanku yang jujur, yang tak usah disebut namanya.

Teman akrabku ada benarnya. Dia memang suka seenaknya aja bicara tanpa tahu hatiku koyakkoyak dibuatnya. Meskipun, semua yang disampaikan ada benarnya sih. (Penulis menghela napas panjang di sini)

Lagunya Kunto Aji yang Terlalu Lama Sendiri memang bagus sekali. Makin membuat aku mencari pembelaan diri kenapa masih aja sendiri hingga hari ini.

Barangkali orang melihat seorang Aku itu terlalu pemilih dalam mencari pasangan. Ya memang. Masa iya gak dipilih? Emangnya menyenangkan menjalani hubungan tanpa ketertarikan? Tanpa nyambungnya obrolan? Ah, naif aku.

Temanku yang jujur tadi mau pergi meninggalkan Indonesia. Meninggalkan aku dengan high-quality-jomblo-ku ini, mengejar cita-citanya. Makin sepi lah hidupku. (Penulis sudah mulai menumpukkan butirbutir air di matanya)

Nulisnya nanti lagi ya. Aku lagi sibuk.

Jakarta, Februari 2016

Album Doa

Published February 2, 2016 by eqoxa

Seringkali manusia tersesat dalam pagi. Gigil beku yang membuat arah kakimu tak jelas menuju. Matahari pun sembunyi entah menunggu apa. Manusia sibuk dalam pikirannya. Apa yang kau temukan? Sepi.

Dua garis merah yang melingkar, satu di jariku dan satunya lagi di jarimu, adalah perbatasan yang memiliki aturan wilayah sendiri, dan Tuhan adalah penjaganya, yang akan menembak mati siapa-siapa yang melanggarnya. Kau atau aku, atau kita berdua, atau ada seseorang yang masuk seenaknya.

Barangkali mati bukanlah ujung sebenarnya. Kepercayaan yang membentuknya, meskipun aku yakin bahwa setelah mati akan ada cerita lagi di dunia baru. Bukan tentang kita, bukan tentang cinta, tapi yang lebih Maha.

Terjebak dalam pagi yang pendiam, pikiranku menjelma malam. Gelap, meski beberapa bintang dan sebuah bulan berusaha menyinari, namun aku masih merindukan matahari. Kantuk yang menggantung di bawah mata, membuat lunglai langkah dan bermalas-malasan. Mana daun? Aku hendak berayun.

Misalnya pepohonan saling bercerita tentang aku yang merindukanmu, maka akan kutemukan banyak sekali kejanggalan soal perasaanku itu. Bukan cinta, tapi ambisi untuk memiliki. Ambisi untuk tidur lelap dalam dadamu.

Di pinggir sungai kecil aku mengecipakkan seluruh resah, kuhanyutkan beberapa helai sedihku sambil menghujani pipi. Sesekali kuseka puisi yang mengalir pula di sana.

Getir.

Dengarlah, konon Cinta Tanpa Batas, tapi aku hanya Tak Biasa menggelayut pada Mendung yang tak bisa ku Hentikan. Puisi Cinta seenaknya menasbihkan Hukum Kekekalan Tawa dalam Cinta Kita. Just for you, my Hunny Bunny.

 

 

Hari ke- 3 untuk Album The Vuje – Self Titled 2013, kau sudah punya?

30 Hari Menulis Surat Cinta

Hanya Berdoa

Published February 2, 2016 by eqoxa

Mereka bilang kau tak setia, setiap hari berganti cinta, kadang benar, kadang tidak. Dalam tubuhmu telah tumbuh sebuah cinta yang baru, yaitu kecintaan pada hidupmu, meski pahit, meski pilu. Perbincangan seputar selangkangan dan payudara dan naik-turun harga, adalah menu wajib harian. Kadang kau hampir mati babak belur di tangan istri pria-pria serong, kadang pula nyaris tercekik pada tangan yang meminjamimu uang. Apalagi yang hendak kau perjual belikan selain tubuhmu? semenjak terakhir kali kau berikan perawanmu dengan cuma-cuma pada pacar – cinta – monyet-mu yang ternyata lebih liar dari monyet itu.

Dalam status lajangmu yang jalang, aku berdoa semoga suatu hari kau memintaNya untuk membawamu pada kebahagiaan sederhana yang disebut iman, meski kadang kau harus berpuasa menahan nafsumu: lapar, haus, dan orgasme. Kau tidak sakit, kau hanya butuh banyak pelukan. Pelukan kebahagiaan.

Kepada pelacur – pelacur jalanan, kaupun manusia biasa yang layak diselamatkan.

 

 

Hari ke – 2 untuk yang kudoakan.

30 Hari Menulis Surat Cinta

Dedaun Akasia

Published February 2, 2016 by eqoxa

Jam sudah menunjukan pukul 4 sore, hari sedang tanggung. Tak hujan dan tak panas, hanya sendu tanpa kabar seperti langit mendung. Aku masih menunggu. Seseorang yang sudah lama sekali ingin aku ketemu.

Tukang becak dan ojek, bajaj atau taksi sudah lalu lalang tanpa lelah mengejar Rupiah. Di dekat pohon Akasia aku membatu, menatap layar ponselku sambil menunggu, kapan tiba ujung waktu penantianku itu. Seorang tukang pos singgah tak jauh dari tempatku tegak. Dia lelah dan berkeringat. Tetiba aku teringat surat cinta, di laci lemariku yang berkarat.

Oh, pria malang yang ingin aku kirimi surat, kau beruntung karena rencanaku itu tak pernah sempat. Jikapun suatu hari aku menyapamu dengan sok akrab dan penuh hasrat, kau abaikan sajalah agar aku tak punya lagi berjuta-juta niat, padamu, pada kita yang tak mungkin tersurat. Kaupun pulanglah ke dada wanitamu yang hangat, yang aku sendiri sudah ikhlas melihat. Di dedaun Akasia, kau kutuliskan tanpa getar-getar di dada yang dulu sering menggema dan merambat.

 

 

Hari Ke-1 untuk yang terbebaskan dari hasrat.

30 Hari Menulis Surat Cinta