Archives

All posts for the month February, 2015

Dear LMNO 

Published February 26, 2015 by eqoxa

Jakarta, 26 Februari 

Sudah dua puluh delapan hari aku rutin membaca dan mengomentari surat kalian, dari mulai bangun pagi, siang bila ada waktu, sore saat senggang, atau malam menjelang tidur. ini cinta? Iya. I love your love letter.

Surat kalian tentu sudah menjadi bagian diriku sebulan ini. Jika lucu aku akan tertawa, jika sedih mataku akan berkaca-kaca, jika romantis aku akan senyum sendiri gak peduli dianggap gila, jika hampa maka aku hanya akan menuliskan semangat di sana.

Kalian itu hebat, ya. Setia menulis satu bulan penuh itu prestasi yang tak semua orang bisa melakukannya, bahkan aku. Dari mana sih semangat kalian itu datang? Dari cinta? Bisa jadi.

Tak jarang aku merasa haru saat membaca surat itu satu-satu, juga surat-surat yang khusus dikirim untukku. Padahal kalian tau, aku adalah tukang pos paling tak disiplin waktu, aku sering terlambat mengantar surat kalian itu, bahkan pernah waktu itu bencana datang, aku meninggalkan kalian sementara waktu. Tapi, aku dapat maafnya kan? Kalian akan tetap rajin menulis meski nanti komentarku tak lagi datang kan?

Gathering nanti kalian jangan sungkan datang, tumpahkan semua lelah dan bersuka citalah dengan penulis lain di sana. Jika tak ada aral melintang, aku akan di sana, menunggu dan menyambut kalian datang.

Terima kasih untuk selalu menjadi diri sendiri saat menulis, dengan begitu aku jadi mengenal kalian lebih dekat lagi. Semangat selalu ya, tak bisa kupungkiri, aku sayang kalian. 

Dari Ika, untuk semua penulis LMNO di #30HariMenulisSuratCinta 2015.

Pada sebuah Ruang

Published February 23, 2015 by eqoxa

Sepi sekali ruangan ini. Hanya ada jendela dan pintu masing-masing satu. Ada sofa merah yang selalu bagus bentuknya di tengah-tengah ruang, yang disampingnya ada meja kaca kecil tempat meletakkan satu pot mawar segar.
Banyak sekali foto usang di dinding. Mungkin mereka bekas penghuni atau tamu yang pernah datang ke sini. Lalu wajahku pun terpampang di sana, aku bingung dari mana asalnya.
Saking bosannya aku hempaskan diriku di sofa. Mataku sedari tadi sudah melirik jendela karena penasaran pemandangan apa yang ada di sana. Tapi ada yang menahan, yaitu rasa malasku. Padahal di luar sana mungkin ada seseorang yang bisa kupanggil, lalu kuajak menemaniku di ruang ini. Tapi tidak, aku terlalu enggan untuk menyeret diriku ke jendela yang sebenarnya hanya dua langkah ke depanku itu.
Terlalu banyak “seandainya” di kepalaku, yang sebenarnya tak perlu.
Yang mengurungku hingga tak bisa keluar dari ruang rindu. Kutunggu saja, sampai ada yang memanggilku.

Jakarta, Februari 2015

IMG_9772

oleh @ikavuje

Si Melankolis

Published February 18, 2015 by eqoxa

Ada yang bilang ngirim surat untuk diri sendiri itu masokis. Ituloh yang suka nyakitin diri sendiri untuk mendapat kenikmatan. Bisa jadi memang iya, tapi bisa juga tidak. Menulis untuk diri di masa lalu, di masa depan, di depan cermin, atau sambil apa saja itu tujuanya apa? Cari perhatian? Memberi informasi? Kekurangan bahan tulisan? Maybe. Yang pasti dalam hal menulis, ide memang kita sendiri yang membuat batasnya.

Aku sendiri pernah melakukannya. Mengirim surat cinta untuk aku yang di masa depan, untuk aku di masa lalu, untuk aku yang entah apa lagi. Gaya berfikirku yang melankolis mungkin sebabnya, berimajinasi kelak di masa depan itu tak ada lagi bukti sejarah yang tersisa selain tulisan singkat di perpustakaan blog yang bisa kubaca lagi, sambil tersenyum, berkaca-kaca, marah, atau ketawa, ya apa sajalah asal bisa merasakan lagi suasana ketika aku menulisnya. Kode yang tersimpan hanya dalam memori, yang hanya aku yang mengerti rasanya. Masa kini yang kelak akan menjadi dulu. Tulisan di buku harian digital yang akan menjadi sejarah.

Tapi sikapku yang ini tak usah diikuti, karena cenderung menunjukan betapa menderitanya menjadi manusia, menunjukan kelemahan, dan menunjukkan kecengengan pribadi. Meskipun aku hanya berniat bersenang-senang dengan diriku sendiri, sambil cari perhatian dari yang membaca juga pasti.
Semoga kelak, tak semakin banyak yang menulis surat semacam ini, agar cinta meluas menyebar tak melulu untuk diri sendiri.

Jakarta, 2015

Hari yang Indah

Published February 3, 2015 by eqoxa

Kemarin aku sibuk seharian, hari ini juga sama, besok mungkin sama. Mengulang-ulang semuanya lagi dengan aktivitas yang sama rasanya semacam oon. Ini semua untuk apa sih?
Uang sudah menjadikan manusia tak punya lagi waktu duduk bercengkrama, hanya seliweran dua – tiga kata sesekali lewat ponsel saja, alias basa-basi-busuk.
Tapi kupikir lagi apa gunanya sih mengeluh? Bukankah harusnya bersyukur? Yang harusnya mencari kerja malah sibuknya buat bekerja?
Selamat bekerja untuk aku dan siapa saja yang membaca. Beraktivitaslah dengan bahagia. Anggap saja setiap hari itu indah, meski bukan perkara mudah.

Singkat

Published February 2, 2015 by eqoxa

Engkau bukan seorang pembohong, aku percaya itu. Dulu kuminta kekasih kaya dikabulkan begitu saja, namun aku lupa meminta kebaikan dan cinta, akhirnya ya bubar juga. Engkau bukan lelucon, sebab banyak hadiah yang membuatku terperangah tak percaya. Hal yang dengan serius membuatku menangis saking bahagianya.

Tuhan, Engkau selalu ada. Alhamdulillah.