Archives

All posts for the month March, 2014

Suam – Suam Rindu

Published March 18, 2014 by eqoxa

Angin kencang sekali, ada gadis kecil terlantar tak bisa pulang. jaketnya tak terlalu tebal menutupi tubuhnya yang selembar tipis. Gemuruh menandakan sepi akan berganti, ada banyak dentuman yang membuat kaget dan gugup.

Kemana ia akan berteduh? tak ada pepohonan, tak ada gubuk kecil hangat milik nenek yang bisa menyambutnya, apalagi kasur hangat dan selimutnya. Sementara tubuhnya telah gigil, suasana makin tak nyaman dan malam semakin kelam.

Kau tenanglah, takkan terjadi apa-apa padamu, aku hanya sedang menceritakan isi hatiku saat tak ada kamu.

Penulis HIJK – ku yang Rajin

Published March 12, 2014 by eqoxa
  1. Hari ke-1 “Jangan sembunyi” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/jangan-sembunyi.html … by @harumazizah
  2. Hari ke-2 “ Ibu…ibu…ibu…” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/ibuibuibu.html … by @harumazizah
  3. Hari ke-3 ” Ayah…” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/ayah.html … by @harumazizah
  4. Hari ke-4 “Untuk pria dengan angka 21” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/untuk-pria-dengan-angka-21.html … by @harumazizah
  5. Hari ke-5 ” (Hanya) Sahabat” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/hanya-sahabat.html … by @harumazizah
  6. Hari ke-6 “Dear Pilihan” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/dear-pilihan.html … by @harumazizah
  7. Hari ke-8 ” Mulut Manis itu” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/mulut-manis-itu.html … by @harumazizah
  8. Hari ke-9 “Selamat mbakku tersayang” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/selamat-mbakku-tersayang.html … by @harumazizah
  9. Hari ke-10 ” Kepada lelaki” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/kepada-lelaki.html … by @harumazizah
  10. Hari ke-11 ” Senja Romantis” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/senja-romantis.html … by @harumazizah
  11. Hari ke-12 ” Hari itu” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/hari-itu.html … by @harumazizah
  12. Hari ke-13 “Tulisan untuk tulisanku” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/tulisan-untuk-tulisanku.html … by @harumazizah
  13. Hari ke-15 “Untuk yang kemarin meminta cokelat” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/untuk-yang-kemarin-meminta-cokelat.html … by @harumazizah
  14. Hari ke-16 “Sabar ya,nduk..” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/sabar-yanduk.html … by @harumazizah
  15. Hari ke-17 “Che’07” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/che.html … by @harumazizah
  16. Hari ke-18 ” Naik agya kemana kita” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/naik-agya-kemana-kita.html … by @harumazizah
  17. Hari ke-19 “Cepet sembuh ya..” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/cepet-sembuh-ya.html … by @harumazizah
  18. Hari ke-20 “Ipajipora” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/ipajipora.html … by @harumazizah
  19. Hari ke-23 “Untuk Kau,Aku di Masa Kecil” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/untuk-kauaku-di-masa-kecil.html … by @harumazizah
  20. Hari ke-24 ” Kepada Pengendara di Jakarta” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/kepada-pengendara-di-jakarta.html … by @harumazizah
  21. Hari ke-25 “Untuk yang Membuatku Menangis” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/untuk-yang-membuatku-menangis.html … by @harumazizah
  22. Hari ke-26 “Kuatlah,Sep..” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/kuatlahsep.html … by @harumazizah
  23. Hari ke-27 “Teruntuk Pagi” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/02/teruntuk-pagi.html … by @harumazizah
  24. Hari ke-29 “Yang Tercinta,Ibu” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/03/yang-tercintaibu.html … by @harumazizah
  25. Hari ke-30 “(Bukan) Surat Terakhir” http://rorumigirl.blogspot.com/2014/03/bukan-surat-terakhir.html … by @harumazizah

Total 25 Surat tanpa menghitung surat kaleng

  1. Hari ke-1 “Kepada, Cinta” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/kepada-cinta.html … by @ismarestii
  2. Hari ke-2 “Surat Salah Alamat” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/surat-salah-alamat_2.html … by @ismarestii
  3. Hari ke-3 “Dua Kali Dua” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/dua-kali-dua.html … by @ismarestii
  4. Hari ke-4 “Secret Letter (No More)” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/secret-letter-no-more.html … by @ismarestii
  5. Hari ke-5 “Surat Permohonan” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/surat-permohonan.html … by @ismarestii
  6. Hari ke-6 “Surat untuk Karissa” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/surat-untuk-karissa.html … by @ismarestii
  7. Hari Ke-8 “Akan Ada Saatnya” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/akan-ada-saatnya.html … by @ismarestii
  8. Hari ke-9 “Surat Kilat untuk Hujan” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/surat-kilat-untuk-hujan.html … by @ismarestii
  9. Hari ke-10 “Tentang Surat Bahagia” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/tentang-surat-bahagia.html … by @ismarestii
  10. Hari ke-11 “Halo, Orang Asing!” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/halo-orang-asing.html … by @ismarestii
  11. Hari ke-12 “Peringatan!” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/peringatan.html … by: @ismarestii
  12. Hari ke-13 “(Bukan Lagi) Surat Cinta” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/bukan-lagi-surat-cinta.html … by @ismarestii
  13. Hari ke-15 “Surat Kaki Kanan untuk Kaki Kiri” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/surat-kaki-kanan-untuk-kaki-kiri.html … by @ismarestii
  14. Hari ke-16 “Singkat Saja” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/singkat-saja.html … by: @ismarestii
  15. Hari ke-17 “Untuk Si Keras Kepala” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/untuk-si-keras-kepala.html … by @ismarestii
  16. Hari ke-18 “Bim… Biiimmmm…!” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/bim-biiimmmm.html … by @ismarestii
  17. Hari ke-19 “Bukan Pahlawan” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/bukan-pahlawan.html … by @ismarestii
  18. Hari ke-20 “Membiasakan yang Biasa” http://ismapratiwi.blogspot.com/  by @ismarestii
  19. Hari ke-22 “Pelajaran-pelajaran Kecil” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/pelajaran-pelajaran-kecil.html … by @ismarestii to @Dwi_Boboiboy
  20. Hari ke-23 “Tentang Kangen” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/tentang-kangen.html … by @ismarestii
  21. Hari ke-25 “Dari Si Ekstrovert untuk Introvert http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/dari-si-ekstrovert-untuk-introvert.html … by @ismarestii
  22. Hari ke-26 “Tentang Menjadikanmu Guru” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/tentang-menjadikanmu-guru.html … by @ismarestii
  23. Hari ke-27 “Penting Bagimu” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/02/penting-bagimu.html … by @ismarestii
  24. Hari ke-29 “Sebentuk Ungkapan Terima Kasih” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/03/sebentuk-ungkapan-terima-kasih.html … by: @ismarestii
  25. Hari ke-30 “Untukmu, dan Hujan Hari Ini” http://ismapratiwi.blogspot.com/2014/03/untukmu-dan-hujan-hari-ini.html … by @ismarestii

Total : 25 surat tidak termasuk surat kaleng

untuk diikutsertakan dalam projek #30HariMenulisSuratCinta -nya @Poscinta

Selamat ya 😀 kalian hebat. Buat yang mau baca, silakan loh

Lambat

Published March 11, 2014 by eqoxa

“Yang tak berusaha dekat, akan selalu jauh.”

Itu katamu Peninsula,
Aku mendengar dan diam menanggapinya.
Kau katakan itu usai mengungkapkan cinta padaku, dan aku hanya menjawab terima kasih.

Ya, setelah itu kau menghilang. Tak lagi pernah menghubungiku. Tak lagi memuji diriku seperti dulu. Kemana cintamu?

Aneh, saat kau ada, aku tak merasa apa-apa. Selain sedikit jengah dengan rayuanmu yang kadang picisan. Juga banyak sekali kebosanan karena kau terus bertanya banyak hal. Sedang aku tak tahu apa-apa. Bahkan di mana kau tinggal pun, aku tak tahu.

Peninsula, kau di mana?
Kali ini aku akan banyak bertanya. Banyak bercerita, kau duduk saja, sambil mengunyah permen karet kesukaanmu, sesekali menatap layar telepon pintarmu itu, dan menjawabku rinduku.

Peninsula, benar katamu, akulah yang tak pernah berusaha mendekat. Sampai kau benar-benar menjauh.

Di antara penyesalanku, adalah mengapa ini harus terjadi ketika aku bahkan tak bernyawa lagi.

(diambil dari Fogvuge.wordpress.com)

Mengenang Suatu Hari #Dayak

Published March 11, 2014 by eqoxa

“Kimong! Ayok main lereng !” Teriakku.
“Ayok!”

Usiaku masih kecil sekali saat di Kalimantan Timur. Sebuah kota kecil, Long Ikis namanya. Di sini banyak sekali teman-temanku suku Dayak. Salah satu yang akrab, namanya Kimong.

Keluarga Kimong memang lumayan dikenal di desa ini, desa Amuntai (dulu namanya Semuntai), wajar, karena ayahnya adalah seorang dukun yang dipercaya masyarakat sekitar.

Namaku Mei, masih kelas 3 SD aku saat mengenal Kimong ini. Adiknya Kimomi sekelas dengan adikku. Aku dan Kimong memang tak begitu akrab, kecuali soal main sepeda sore-sore.

Suatu hari pulang sekolah aku terlambat dijemput papa. Akibatnya, aku sendirian di sekolah. Kimong dengan sepedanya datang menghampiriku.
“Ayo, pulang denganku saja, nanti ayahmu biar menjemput kerumahku.” Katanya

Aku mengiyakan saja ajakannya. Duduk di boncengan belakang, ia mengayuh dengan baik sampai ke rumahnya.

Rumahnya yang kulihat memang unik. Dan aku memandangnya kagum sekaligus bergidik. Kelam dan sakral, ya mungkin begitulah seingatku rumahnya itu. Banyak ukiran patung dan bulu-bulu elang yang telah menguning bertaburan di halaman sampingnya. Di sisi kanan rumahnya ada pintu kecil, selain pintu utama, untuk kami masuk. Sebelumnya kami melewati dua buah gentong kaleng besar, “tempat menampung air hujan”, kata Kimong.

Masuk ke dalam rumahnya aku tak merasa beda apa-apa. Lantainya tetaplah tanah. Ya, memang bentuknya lebih rapi. Tapi tetap saja tanah. Dinding rumahnya yang tipis membuat aku yakin, Kimong pasti kedinginan sepanjang malam.

Di ruang tamunya banyak sekali piring-piring tergeletak yang berisi bunga warna-warni dan jeruk-jeruk. Juga ada sebuah guci kecil yang mengeluarkan asap berbau aneh, yang akhirnya kutahu namanya “kemenyan”.

Kimong mengajakku ke ruang tengah. Di sana ada perempuan yang telinganya menjuntai hingga bahu, dan memanggilnya ibu. Seperti ajaran ibuku, tiap bertemu orang yang lebih tua, ciumlah tangannya. Maka, kucium tangannya, tanda hormat. Ia menyediakan sepiring pisang goreng yang nikmat sekali, dan segelas teh manis untuk perut kecilku yang lapar.

Hari semakin malam. Aku mulai gelisah. Mengapa papa belum juga menjemputku? Apa dia tak tahu rumah Kimong? Ah, sebaiknya aku kembali saja kesekolah, siapa tahu papa menunggu di sana.

Kimong dan orang tuanya tak setuju. Aku tak akan dibiarkan pergi sendiri ke sana untuk menemui papa. Aku semakin gelisah, meski kata ayahnya – aku akan diantarkan pulang. Tapi aku takut padanya, matanya seperti menguliti seluruh isi hatiku.

Kimong menunjukkan kamarnya. Kamar kecil yang hanya ada lentera kecil di dalamnya. Tidak ada TV, tidak ada radio. Hanya kamar lusuh yang terdiri dari lemari dan meja belajar reyot yang memenuhinya.

Aku tersenyum datar. Dalam hati aku mensyukuri apa yang ada di kamarku di rumah. Dan semakin gelisah ingin pulang, karena jam menunjukan pukul sembilan kurang.

Saat itu tak ada telepon, tak seperti zaman sekarang. Aku juga masih terlalu kecil untuk kemana-mana sendirian. Tapi aku sedikit merasa bersalah. Sebab aku berjanji pada ibuku, akan tetap berada di sekolah apabila papa terlambat menjemput. Dan mataku mulai basah.

Ayah Kimong menghampiriku. Matanya tidak sama, kini ramah sekali. Aku serasa tak percaya, berbeda sekali dengan ia yang sebelumnya.
“Mari, saya antarkan pulang. Papamu masih rapat di kantor.” Katanya

Kami berboncengan naik sepeda. Kali ini sepedanya lebih besar dari milik Kimong. Ternyata paman ini tidak jahat, tidak seseram yang kusangka sebelumnya. Sepanjang jalan ia menceritakanku dongeng tentang si kancil pencuri timun. Cara ia bercerita lucu sekali, aku terpingkal-pingkal mendengarnya.

Tak lama kami pun tiba di rumahku. Ibu menyambut dengan wajah lega. Ia mengundang masuk ayah Kimong, namun ditolak dengan lembut, karena ia buru-buru menuju tempat lain. Aku melambai padanya dengan senyum ceria.

“Sampai jumpa paman, hati-hati.” Teriakku saat ia mengayuh sepedanya menjauh.

Ibu hanya memandangiku tersenyum,
“Bagaimana petualangan kakak hari ini?” Katanya.
“Seru dan menegangkan!” Jawabku.

Sejak hari itu, aku dan Kimong semakin akrab. Cerita persahabatan kami terpaksa terhenti saat aku naik ke kelas 5. Orang tuaku dipindah – tugaskan ke Sumatera. Terpaksa, aku pun pindah sekolah.

Cerita kami habis sampai di situ. Tak pernah sekalipun aku mendengar kabar tentangnya lagi. Seandainya bisa, ingin lagi aku ke sana. Barangkali bisa bertemu Kimong yang telah menjadi pria dewasa.

 

*lereng : sepeda

 

Diambil dari blog fogvuge.wordpress.com

Aku rindu

Published March 10, 2014 by eqoxa

pernahkah kau membayangkan suatu hari, kita berjalanjalan bergandengan tangan?
pernahkah kau membayangkan suatu hari, kita membicarakan tentang pernikahan?

Dan cinta pun bermekaran di dalam pelukan. Dan rindu pun berguguran dari dahan pepohonan.

Aku rindu pelukanmu, waktu kita duduk di bangku taman. Aku rindu waktu kita saling mengikatkan hati dan janji kita. Kau dan aku dalam cinta.

Disewakan: sebuah hati tak terpakai

Published March 3, 2014 by eqoxa

Sudah sepi. Bagian hati hilang separuh. Rindu terserak enggan kurapikan. Kau sedang apa? Aku tahu. Kau sedang sibuk membahagiakan dia.

Aku punya hadiah segaris senyuman buatmu, harganya murah, tapi percaya atau tidak, kau tak bisa menemukannya di tempat paling mewah tak pula di pasar loak. Hanya aku yang memilikinya, di wajahku.

Seringkali aku tak menemukan apapun ide yang bisa kutuangkan pada gelas lagu. Kau sama sekali tak menginspirasiku. Kau tak membuatku ingin menciptakan sebuah lagu, ataupun menyanyikan sesuatu. Kau begitu meriah, maka aku akan menjelma hutan sepi, diam bagai batu, menyimak bahagiamu.

Setelah lama menimbang, maka akan kusewakan saja sepetak ruang hatiku yang jarang ditempati ini. Lumayan bila ada yang berani menyewa, aku bisa membeli nasi bungkus atau anting berlian yang harganya bergelantungan di langit ke-tujuh.

Hei Tuan penabur luka, menjauhlah dari tanah jantungku yang lunak, pecahan tawamu sering terinjak, hingga berdarah dadaku, demi senyummu terpelihara.

30. Pada Akhirnya

Published March 2, 2014 by eqoxa

2 Maret 2014

Akhirnya. Telah sampailah segala hajat menulis mereka yang hebat, yang sanggup melewati segala halangan yang mengganggu semangat menulis. Sampailah perjumpaan pada perpisahan. Dan menumpuk semua kangen yang tak menentu arah.

Aku menghening, di depan sebuah ponsel, di tengah keramaian orang yang sibuk lalulalang di sebuah pusat perbelanjaan, berhadapan pada surat yang hendak diantarkan, dan sebuah hadiah kencan. Aku menghening, mengulang ingatan sejak hari pertama proyek menulis ini di mulai, wajahwajah tulisan para peserta, tim HIJK yang luar biasa semangatnya. Menggenangkan setitik air mata tak tumpah ke pipi, haru, membayangkan setelah hari ini, akan banyak rindu pada tulisan mereka.

Aku menghening dalam campur aduk perasaan yang membuatku sedih dan senyum, menyadari setiap perjumpaan akan berakhir pada perpisahan. Menyadari banyaknya kelemahan dan kesalahan yang aku lakukan. Semoga saja, aku dimaafkan.

Para penulis tim HIJK yang baik, aku meminta maaf, aku menyayangi kalian semua, menyukai gaya menulis kalian yang khas, sapaan dan kesabaran kalian menunggu surat diantarkan dan banyaknya aturan dan kebawelanku. Semoga, ada saat kita akan duduk di satu meja, membicarakan banyak cinta dan hal yang membuat kita menangis atau tertawa, bersama.

Aku berharap bisa menyalami kalian satu persatu, atau memeluk kalian bila bertemu, tepatnya di gathering poscinta 9 Maret nanti.

Sekian suratku ini, bila setelah ini aku menjadi orang yang tak begitu kalian sukai lagi, mohon maafkan aku, sebab aku hanya manusia yang biasabiasa saja. Sekali lagi, semangat terus nulisnya yaaaa :’D

– ika, tukangpos