Archives

All posts for the month December, 2012

Pemakaman Pinus

Published December 18, 2012 by eqoxa

suatu sore yang kemerah-merahan usai langit bercumbu dengan matahari, aku merebahkan punggungku yang sedikit terganggu sepasang sayap, pada batang pinus yang menjulang. tampak tak jauh dari pandangan mataku seorang bocah kecil sedang menangisi keadaannya yang tersesat, ditambahi dengan pilu yang disebabkan sosok tubuh lain yang sedang terbaring di tanah dan sekarat. pada kakinya tertancap duri besar, perangkap yang biasa digunakan pribumi untuk menangkap binatang.

kumainkan kecapiku mengalun di semilir angin, menghembuskan sepi hutan. sesekali iapun melambai-lembutkan rambut sang bocah, namun tak mengurangi kepedihannya.

daun jatuh melandai pada rambutku yang keemasan. hening yang sesak pada dada membuatku terkantuk-kantuk. rasanya ingin bermalas-malasan saja di surga, sambil bermandi cahaya dan mendengarkan nyanyian malaikat cinta. namun aku harus diam di sini, demi sang bocah.

asap mengepul arakan kecil, aku mengamati pria tua di kejauhan yang sedang membakar sampah daun dan ranting di sekitaran gubuknya. kuterbangkan diriku ke arahnya dan memainkan nada sendu, memanggilnya yang kian mencari-cari arah suara.

sampai tibalah ia di dekat tubuh kecil yang menggigil terbaring di dekat tubuh mati di sebelahnya. lalu diselimutkannya jaket yang kumal yang dipakainya, tak tega membangunkan sang bocah yang telah terlalu lelah dengan perihnya. dinyalakannya api kecil dari dedaunan. dimakamkannya seonggok daging di bawah Pinus. tanpa nisan, bertabur dedaun kering.

sore kian renta, dan angin semakin riang berhembus. lelapnya tak jua gugah, dan sang pria mulai gelisah. dijejakkannya telapak tangan pada tubuh bocah yang lebih panas dari matahari, dan bergegas ia merangkul tubuh gigil yang mungil itu dalam pelukannya. aku melayang-layang membuntutinya. sesampainya di perkampungan diteriak-teriakkannya: “jiwa siapa yang telah hilang? aku menemukannya terjatuh di hutan.”  hingga suaranya serak.

tak berapa lama muncul dua nyawa yang berpasangan, dan bergegas menghampiri sang pria. “Kembalikan jiwa kami, keduanya hampir membuat kami mati” kata perempuan yang sekonyong-konyong langsung menghambur memeluk bocah mungil dalam pelukan sang pria. itu ibunya. ia menangis memanggil sebuah nama yang telah lelap, dimakamkan di hutan.

dari kejauhan aku melihat cahaya kian terang, mungkin itu pertanda aku harus pulang, dan menyadari bahwa akulah yang telah mati.