Archives

All posts for the month November, 2012

Barangkali

Published November 8, 2012 by eqoxa

Apa yang kau tunggu dari lengkung pelangi? sementara hujan telah demikian curah membasahi kegersangan hatimu. hujan yang tak pernah engkau pedulikan, meski ia jatuh lebih dulu. katamu kau seorang penunggu yang sabar, tapi apakah kau pecinta yang benar? akupun tak akan menjawab apapun.

Apakah engkau mengenal hujan dengan baik? aromanya dan rasa dingin yang berbeda di setiap kejatuhannya? mungkin tidak. ia lah yang membuat tanah tertawa renyah, usai bermandi basah. hujan dan rasa tak sabarnya untuk menemui tanah, mengendap dan memberinya bahagia di tengah dahaga. sesekali dedaunan ikut meramaikan perayaan ini, dalam hening dan kedinginan.

hujan pernah jatuh sendiri, ia menamai dirinya gerimis, si penyuka sepi dan ketenangan. ia memilih menjadi penanda, agar manusia dan makhluk bumi lainnya bersiap dijatuhi doa yang dibawanya dari surga. barangkali saat itu bumi sedang lelap, dan manusia masih riang berjalan di bawah langit, maka iapun turun merintik pada wajah – wajah yang terbuka, agar mereka bergegas langkahnya.

beberapa hujan gemar membuat keributan, berbondong – bondong bernyanyi kegirangan di atas atap – atap rumah. hujan yang tak begitu ramah dan menyenangkan, ia memberi terlalu banyak air kepada bumi yang kian kekenyangan. sehingga menghanyutkan sampah – sampah yang tersumbat, dan melautkan sungai. beberapa manusia akan ikut merugi pada tingkah hujan yang ini, dan mereka gemar menjulukinya badai. karena bumi hanya akan bisa menunggu sampai sang badai kelelahan dan berlalu.

sesekali angin ikut berdansa demikian hebohnya, mungkin kerena pesta langit begitu megah. angin berdansa dan memaksa tanah mengikuti iramanya. mengajaknya berputar hingga hampir menyentuh angkasa, dan bumi memporak – porandakan wajahnya sendiri. hujan hanya menjadi penari latah yang ikut meramaikan setiap keteledoran bumi.

apakah kau menemukan nama lain yang bisa kau beri kepada air yang terjatuh dari langit? langit hanya akan diam pada pertanyaan apapun. hujan mungkin telah bahagia dengan nama yang diberikan kepadanya, sehingga menghadiahi manusia dengan lengkung warna-warni.

 

lalu hujan turun di beranda wajah, kadang diikuti isakan, kadang dengan keheningan dan hati yang perih. kadang iapun ada saat menghantar kesyukuran dan bahagia. bola – bola mata yang menjadi lebih binar usai kejatuhannya, adalah muara, dari hati yang sedang berbicara. hujan ini menamai dirinya air mata. 

kali ini, biarkan hujan menjadi tokoh utama, dan pelangi sebagai akhir bahagianya.

Advertisements

aku berprasangka baik.

Published November 7, 2012 by eqoxa

barangkali puisi ini hendak diletakkan di depan vas yang ada bunga hendak layunya, berjatuhan menimpa dan tak meninggalkan nyawa. seperti kejatuhan cinta yang hening dan tanpa jejak.

puisiku tak lagi menemukan rusuknya, hanya belulang yang terus merangkai namun tak sempurna. berbagai doa yang kuucapkan tak menemukan ujungnya. tetap sendiri meski ia percaya bahwa kekasih adalah sayatan dari jiwanya.

banyak sekali percakapan yang tak sempat terekam dari saling rindu kita. dan terus tumbuh subur layaknya jamur di sudut bebatuan, yang akan membuatmu terpeleset bila terus melangkah ke sana. aku sedang menghitung rinduku pada jejeran waktu yang terus meninggalkan dan tak memberi kabar. malah kabur.

seperti apa yang telah kuperkirakan selama ini, aku berprasangka baik, yaitu bahwa aku adalah yang paling bahagia. entah apa yang dimaksudkan bahagia itu sendiri, barangkali sama dengan sibuk menceritakan apa yang dimilikinya, namun sayangnya aku terlalu sibuk di ruang fikiranku yang tak begitu luas untuk mencerna setiap kata-kata dari mulutnya yang kian menyakitkan.

seperti kataku sebelumnya, puisiku telah fakir. ia telah kelelahan dengan kemiskinan yang dimilikinya. tiada lain selain rindu yang berkali – kali diolah-olah hingga busuk dan tak terbaca lagi. pun sekian waktu kita tahu, Tuhan itu ada meski belum menunjukan diri, membuktikan keberadaanNya, dan memastikan kekuasaanNya. kataku, aku ini pencipta Tuhan. kau saja yang tak tahu. sama, akupun sekadar berkata begitu.