Archives

All posts for the month September, 2012

Sepasang Api

Published September 14, 2012 by eqoxa

“Sanjayaaaaaaaaaaa! Kau kemanakan jaketkuuuuu????”

Masih pukul 5 pagi. Aku sudah teriak-teriak seperti manusia kesurupan setan. Bagaimana tidak, jaket yang paling kusayang, yang biasa kukenakan sesekali ke acara bergengsi, dan harganya bisa membuatku menahan lapar dua bulan, dan biasanya tersimpan rapi dalam bungkusan plastik laundry– tapi kini lenyap. Siapa lagi kalau bukan bajingan muda tukang pamer itu yang meminjamnya tanpa permisi.

Ibu tergopoh-gopoh melongo menuju kamar Isan (panggilan kecil Sanjaya), lalu dengan wajah kaget ia bertanya:

“Ada apa ini teriak-teriak masih pagi?”

“Biasa bu, anak muda, aku berangkat dulu ya.” Kataku ngeloyor sambil mengecup pipinya. Ibu cuma bilang hati-hati dengan wajah yang masih terus kebingungan di depan Isan yang masih lelap.

Perjalanan ke kantor adalah tempat aku biasa mengakrabkan diri dengan fikiran-fikiranku. Satu jam terjebak macet sudah bukan hal aneh. Lampu menyala merah, itu berarti saatnya aku mengendurkan urat-urat berfikir dengan mengingat-ingat hal menyenangkan yang sudah kudapatkan bulan ini, saat lampu berubah hijau berarti saatnya aku lebih berkonsentrasi pada orang-orang di jalanan. Kadang kegiatanku ini menambahi rasa syukur, dengan melihat apa yang tak mereka miliki, telah kudapatkan.

Bus memang tak pernah tak padat. Untung AC menyala dan penumpang dilarang merokok.

Jaket kesayanganku sudah tergantung rapi dan wangi pada pukul 7 malam di lemari. Aku tidak yakin ini kerjaan Isan. Pasti ibu.

“Terima kasih jaketnya” suara Isan mengagetkanku. Tumben dia manis.

“Iya, sama-sama, lain kali lo pamit dong kalo mau pakai barang-barang gue.” Kataku sok cuek.

“Iya, maaf ya.” Katanya lalu berjalan meninggalkanku.

Tumben dia gak jahil seperti biasa. Mana kata-kata “halah, jaket buluk jelek begitu doang aja disombongin” yang biasanya dia ucapkan?

Dadaku tiba-tiba sesak. Apa kata-kataku terlalu kasar? Padahal aku cuma pesan sama ibu lewat telfon:
“Aku mau pakai jaket malem ini, tolong dicuci dan digantung rapi. Sampaikan ke Isan ya bu”.

Menikah setahun dengan Isan, aku belum sekalipun disentuhnya. Bukan karena apa-apa, ini perjanjian kami sebelum nikah karena dijodohkan. Kami memutuskan untuk saling mencintai dulu sebelum tidur seranjang. Sebab itulah, kamar kamipun terpisah.

Isan yang musisi gaya hidupnya kelas atas dan sesuka hati. Berbanding jungkir balik bila dibandingkan aku yang cuma guru SMP. Jam kerja yang jauh berbeda tentu saja menjadikan kami menjadi sangat jarang berkomunikasi. Akupun heran mengapa ia mau menikah denganku, padahal banyak gadis lain jauh lebih gaya dan luar biasa cantik dijodohkan dengannya.

Tapi tingkahnya hari ini aneh. Aku mengetuk pintu kamarnya dan dia menyahut “masuk” dari dalam, seolah-olah ia tahu itu aku yang datang.

“Kamu tumben gak ngomel kaya biasanya?” Tanyaku langsung.

“Ah, biasa saja. Lagipula memang salahku.” Jawabnya datar.

“Oh, lagi bete ya?”Tanyaku menyelidik.

“Sotoy deh.” Katanya mulai sinis.

“Jelek lo kalo bete. Kenapa sih? Cerita kek..” Aku sedikit mencoba mencairkan suasana.

“Kira-kira kapan kamu mau mulai mencintai aku?” Katanya sambil serius menatapku.

Aku diam. Jadi batu.

“Woi, diem lagi lo!” Katanya mengagetkan.

“Aa..a a.. Aku mau ke toilet, kebelet..”Kataku buru-buru mau kabur. Tapi kalah cepat. Dia sudah menahan di depan pintu dan menutup dan menguncinya. Mati aku. Jantungku..

“Jawab dulu pertanyaanku..”Katanya memandang tajam ke wajahku.

“Kenapa aku harus menjawab? Memangnya kamu sudah mencintai aku?”Tanyaku mulai memberanikan diri.

“Malam ini kita kencan. Sekarang kau ganti bajumu yang cantik. Titik!” Katanya. Dan mendorongku keluar kamar.

HEY?? HELLOO??? Apa-apaan sih laki-laki satu ini? Memangnya siapa yang mau kencan dengannya? Aku sudah janji dengan Sasti, rekan guruku, untuk ikut undangan makan malam pak KepSek di rumahnya. Dan dia seenaknya membuat janji dadakan begini?? Bah !!

DOK!DOK!DOK! (Suara ketukan pintu sangat keras)

“Aku udah selesai, kutunggu di ruang tamu. 10 menit ya, gak usah dandan menor!” Suara Isan mengagetkan.

Buru-buru kutelepon Sasti dan dengan terpaksa memohon maaf berjuta kali karena membatalkan janji ketemu. Dan mengganti baju kerjaku dengan gaun merah kesayanganku. Gaun (yang anehnya) kupersiapkan sejak lama, kalau-kalau Isan mengajakku kencan.

***

Setengah jam kemudian kami tiba di restoran kecil, lampunya temaram. Kami duduk berhadapan di bangku empuk berwarna cokelat. Hening. Pesananku tiba-tiba sudah datang. Tapi darimana dia tahu aku suka jus mangga?

“Mau makan apa?” Katanya.

“Pesan aja duluan” kataku

“Saya pesan nasi goreng ikan asin, mbak. Yang pedes, ya.”Katanya pada mbak-mbak pelayan yang sibuk mencatat pesanan.

“Loh, kamu dukun ya? Aku mau pesan itu juga.” Kataku melotot kagum.

“Berarti dua, mbak. Nganternya nanti, kalau sudah saya bunyikan bel.” katanya kepada pelayan tanpa menggubris kata-kataku.

Kembali hening.

Close your eyes, give me your hand, darlin’, do you feel my heart beating, do you understand, do you feel the same, am I only dreaming, is this burning, an eternal flame

Lagu kesukaanku mengalun pelan di ruangan ini, selain jus mangga dan nasi goreng ikan asin, apa hal ini masih kebetulan juga? Di ruangan ini tidak ada siapa-siapa. Tertutup untuk kami berdua.

Aku sibuk pada ujung taplak meja yang menjuntai di atas rokku. Sesekali menyeruput jus dan mencuri pandang pada dia yang terus menatapku.

“Kamu gak bisa ya ngelihatnya ke wajahku?” Tanyanya ketus.

“Ih, ngapain ngeliatin kamu. Kaya cakep aja.” Jawabku. memang cakep sih kata hatiku.

Dia bangkit dan aku berusaha menjauh, tapi ia buru-buru menyambar kedua tanganku.

“Lihat aku!” Katanya merapatkan tubuhku ke tubuhnya. Wajahnya dekat sekali. Sial. Aku harus segera punya dokter jantung pribadi. Tangannya tak lagi mencengkram tanganku. Tapi sudah memeluk pinggangku.

“Maaf aku memang tidak romantis. Tapi percayalah, aku sudah mencintaimu sejak pertama kau buatkan sarapan nasi gorengmu yang keasinan di hari pertama kita menikah dulu.”

“Juga saat aku menemukan gitarku tak lagi berdebu dan kamarku bersih sepulang konserku.”

“Lalu aku semakin mencintaimu ketika ulang tahunku kau berhasil mengundang papaku yang tak pernah mau pulang sejak perceraian mereka dulu.”

“Dan aku semakin tak bisa lagi menahan rasa untuk memelukmu. Karena semakin hari semakin aku mencintaimu. Sekarang aku bertanya, apakah kau sudah mencintaiku?” Tanyanya. Masih sambil memelukku.

“Aku mencintaimu meskipun kau jahil. Meskipun kau tak pernah bersikap manis dan tak pernah merayuku. Meskipun kau lupa hari ulang tahunku. Dan memberiku hadiah boneka jelek yang kau beli di supermarket seminggu setelahnya. Kau memang bajingan menyebalkan, tapi sialnya aku menyayangimu.” Jawabku.

Dia tersenyum, lalu tiba-tiba menciumku di bibir. Kami sedang begitu terbakar nafsu sampai tiba-tiba dia bilang:
“aku lapar. Nanti lanjut lagi ya.”

Dasar brengsek.

#30HariLagukuBercerita
Eternal Flame – Covered by Atomic Kitten

Pengakuan hati

Published September 9, 2012 by eqoxa

Sedikit terengah-engah aku sampai di rumah, disambut ibu yang duduk merajut, melirik sekilas dari balik kacamatanya yang melorot ke ujung hidungnya yang mancung.

“Dari mana kamu ngos-ngosan begitu?” Tanyanya sambil terus merajut.

“Ketemu bapak. Di Halte.” Jawabku datar.

“Jangan ngawur kamu. Semua orang juga tahu kalau dia sudah meninggal.” Kali ini diletakkannya rajutannya dan memandangku serius.

“Yasudah kalau ndak percaya. Aku mandi dulu bu, gerah.”Ucapku tak menunggu responnya.

“Ya begitu anak sekarang. Suka lari dari masalah. Mandi sana yang bersih, sekalian segarkan isi kepala kamu yang mulai ruwet itu.” Tutup ibu.

Memang begitu kalau janda. Sensitif. Apalagi kalau menyangkut bapak. Kasihan ibu. Tapi aku memang bertemu bapak. Mungkin ini hadiah, atas rinduku pada beliau dalam bentuk halusinasi.

***

Akhirnya aku mendapat pekerjaan setelah dua belas hari luntang-lantung mencari di seputaran Jakarta yang ganas ini. Pelayan, di sebuah kedai kopi modern. Biarlah, asal halal.

Padahal aku tak suka kopi. Aroma kopi sering membuat mataku berair sembari kembali ke masa lalu, saat bapak masih ada. Ia duduk minum kopi dan membaca koran, dan aku bermain masak-masakan di sekitarnya.

Aku dan ibu memang tidak akrab. Entahlah, kami memang seolah dipasangkan pada garis darah yang salah. Dia dengan segala tingkah kunonya yang berlebihan, dan aku yang terlalu kekinian dan keras kepala.

Bahkan dulu mereka bilang, dia bukanlah ibu kandungku. Perbedaan kami terlalu jelas dari segi manapun, baik fisik, kegemaran, dan banyak hal lainnya. Ah, mungkin aku terbaca terlalu membesar-besarkan.

***

Keesokan pagi aku bangun. Sepi. Hanya suaraku yang sedang menguap dan hembusan angin pada horden yang menampar-nampar kawat anti nyamuk pada jendela kamar yang bersuara. Tak ada gemericik air cuci piring, atau bunyi krompyangan dapur biasa ibu memasak, juga tak ada suara siaran berita samar-samar dari tivi di ruang tengah. Kemana ibu?

Aku melawan rasa malasku dan bangkit mencari-cari sebab sepi ini. Berkeliling rumah dan menemukan ibu tersungkur di dapur tentu membuat aku sadar seketika dan panik.

Dengan pakaian seadanya aku menuju rumah sakit, setelah dibantu para tetangga mengangkat ibu ke mobil. Kenapa ibu?


Mamma, you gave life to me, turned a baby, into a lady

Mamma, all you had to offer, was the promise of, a lifetime of love

Now I know, there is no other, love like a mother’s love for her child

And I know, a love so complete, someday must leave, must say goodbye ..

Perasaanku berantakan, lagu ini semakin membuatku menyesali semuanya. Sikap kasar dan tak peduliku pada ibu, jawaban-jawaban ketus yang tak semestinya kulontarkan. Keangkuhanku. Maafkan aku, bu.

Selama kurang lebih dua jam menunggu di ruang tunggu Unit Gawat Darurat, akhirnya dokter keluar menemuiku.

“Ibumu sudah membaik, ia kekurangan banyak cairan. Kapan kau lihat terakhir kali ia makan?” Ini pertanyaan yang menampar keras wajahku. Kapan ya dia makan terakhir kali? Aku tidak tahu. Terdiam lama, dokter menepuk pundakku.

“Kalian bertengkar?” Katanya lagi. Dia memang dokter keluarga kami. Rasa-rasanya banyak yang sudah dikeluhkan ibu padanya.

“Sedikit dok” jawabku akhirnya.

“Ibumu sedikit tertekan, dia sudah sadar. Tapi masih enggan bicara. Sepertinya sedang sangat sedih. Ajak dia makan.” Kata dokter lagi.

“Baik dokter, terima kasih.” Ucapku.

Aku sudah duduk di samping tempat tidur ibu. Tangan kanannya dipenuhi selang infus. Wajahnya pucat.

“Kapan terakhir kali ibu makan?”Kataku akhirnya setelah hening sekian menit.

“Sudahlah tak usah diperpanjang.”Ujarnya

“Apanya yang diperpanjang? Aku cuma nanya.”Kataku

“Dua hari yang lalu.”Jawabnya

“Sial. Untuk ap..”

“Ibu bilang sudah tak usah diperpanjang.” Katanya memotong ucapanku

“Urusan ini memang sudah panjang karena ibu sampai harus dirawat di ruangan ini, bu. Sekarang mari kita bicara saja, agar tidak membesar masalah kita.” Kataku sedikit menekankan suaraku.

“Ibu kangen bapakmu. Sejak dua hari ke makam beliau, justru semakin rindu. Rasa-rasanya ingin menyusulnya.” Ucapnya menerawang

“Apa aku kelihatan tak begitu berartinya bagi ibu? Sampai ingin menyusul bapak segala. Mau membiarkan aku menghadapi kesedihan ini sendirian begitu?” Tanyaku

“Bukan.. Ibu..” Suaranya terhenti. Bibirnya bergetar dan menetes air matanya.

“Sekarang ibu makan. Aku benci ibu cengeng. Harusnya kita saling menguatkan, bukan saling meninggalkan. Maafkan sikapku selama ini. Aku menyayangimu, bu. Ini aku bawakan sup kesukaan ibu.”Kataku menghapus air matanya.

Akhirnya keluar juga kata sayang itu, kata-kata yang seharusnya lebih sering kuucapkan kepada ibu.

Terinspirasi dari lagu:
Goodbye’s (the saddest word) – Celine Dion
Untuk #30HariLagukuBercerita

Permintaan yang Salah

Published September 4, 2012 by eqoxa

Siang terik membakar aspal tempat aku sedang berpijak. Kututupi sebagian kepalaku dengan map berisi daftar riwayat hidup dan data keperluan melamar kerja. Ya, aku pengangguran Jakarta. Andai ayah masih ada.

Pukul satu siang jalanan macet dan hiruk pikuk lalu lalang kesibukan adalah adat. Sekian tahun begini, aku telah hafal dengan peristiwa membosankan ini. Tak perlu dikeluhkan lagi. Dalam hati aku merutuk keadaan. Kalau saja ayah masih hidup.

Ibuku bukan perempuan tangguh. Dia lemah, terhadap kemiskinan, terhadap hinaan, terhadap segala yang bertubi-tubi menghantam keluarga ini. Dia perempuan kesayangan ayah. Perempuan manja yang hanya mengurus rumah tanpa bekerja, yang akhirnya kalang-kabut mencari uang karena tak tahu harus melakukan apa. Ayah harusnya masih hidup, untuk membekalinya.

Aku memang anak tertua, yang dijadikan tulang punggung keluarga, diharapkan bisa memberikan sebanyak yang ayah beri selama ini. Tapi aku bahkan belum tamat SMA. Apalah yang aku bisa? Ah! Serasa hendak kupecahkan kepalaku! Agar berserakan ide-ide. Mungkin beginilah awalnya, sebelum seorang pribadi menjadi sesat, menuju maksiat, menjadikannya bermental bangsat. Aku harus ikut? Tidak. Aku terlalu pengecut. Aku belum berani menantang Tuhan terang-terangan. Dalam hati saja, seolah-olah Dia tak mengetahuinya. Aku selalu berdoa ini semua mimpi belaka, hidup baik-baik saja dan ayah sedang bekerja..

Kakiku kelelahan setiba di halte yang lumayan teduh dan tak terlalu ramai. Aku duduk dan mengkipasi badanku yang berkeringat. Angin menghembus-hembus wajah dan ujung-ujung rambutku yang pendek. Kuseka keringat di dahi dan menyandar-santai-kan tubuhku di bangku halte.

Lamunanku kian tinggi, masa bahagia aku dan keluarga berjalan-jalan dengan mobil kesayangan ayah. Lagi-lagi aku menyayangkan kepergian ayah yang tiba-tiba. Aku memicingkan mataku melihat sosok yang tak terlalu jauh berjalan mendekat ke arahku. Tubuh tinggi, kulit coklat, perut buncit dan kepalanya yang nyaris kehabisan rambut itu bukanlah hal asing bagiku. Dadaku menjadi sesak, saraf memerintah pada air-air yang entah darimana asalnya menggenangi mataku. “Ayah?” Tanyaku berbisik pada diriku sendiri, dengan air mata yang tak terbendung lagi. Pria itu tak tersenyum, matanya sedih. Aku meraihnya dalam pelukku dan menembus tubuhnya. Hah, khayalan macam apa ini di siang bolong? Aku merasa konyol.

Kutinggalkan halte bus dengan setengah berlari. Air mataku terus mengalir, mengutuk semua doa yang pernah kuminta selama ini. Tenanglah kau di sana ayah.

PS: inspired by “Daughters – John Mayer”
#30HariLagukuBercerita