Archives

All posts for the month January, 2012

#30HariMenulisSuratCinta hari ke #18 #cintamonyet Dear Monkey

Published January 31, 2012 by eqoxa

Dear you,

Tiap kita bertemu dulu, hatiku pasti gembira. Rasanya ada rindu yang mengganggu tiap membayangkan kamu. Masih kecil kita waktu itu. Kelas 2 SMP.

Kota kita kota kecil. Masyarakatnya pun masih kolot. Tak ada menariknya pacar-pacaran di mata mereka. Apalagi keluargaku.Jadi kusimpan saja rasaku untukmu.

Kamu memang manis, tubuhmu yang tinggi dan atletis itu semakin membuatku kagum. Ditambah kemampuan otakmu yang cemerlang, wajar bila banyak yang menyukaimu juga.

Satu kali kita bertemu di tempat les bahasa Inggris yang sama. Dan aku semakin bersemangat datang setiap harinya. Entah memang karena aku suka pelajarannya, atau karena ada kamu di sana. Meski tiap bertemu kerjaan kita hanya ejek-ejekan melulu.

Tapi kau tak memperdulikan perhatianku. Mungkin karena dandananku yang sangat kelaki-lakian, atau karena wajahku yang memang pas-pasan. Kau sibuk menggoda teman sekelas kita yang cantik itu, aku tak ingat namanya. Aku kecewa, karena tak punya kesempatan untuk lebih dekat denganmu, selain jadi teman berantem.

Waktu berlalu cepat. Setelah kita tamat, baru aku bertemu denganmu tak sengaja di suatu kedai, dari obrolan kopi dan bandrek itu aku baru tahu kalau engkau ternyata menyimpan rasa juga padaku. Sungguh, rasanya tak percaya. Anehnya, aku hanya tertawa. Rasaku telah hilang entah kemana.

Akhir cerita kita di kedai kopi itu, kita berteman saja. Meski kau terus memujiku dengan kata “kamu makin cantik, ya” tapi tak lagi membuat berdebar. Wajahmu sedikit kecewa waktu kujawab tidak. Bukan dendam. Hanya sudah tak punya lagi rasa yang sama. Yah, siapa suruh dulu kau jadi monyet?

Dari masa lalu,

Ika

Advertisements

ciuman maksiat

Published January 30, 2012 by eqoxa

Bangun,
Ada yang mengetuk selangkangku.
Sepi,
Bergeming.

Jangan pacari aku demi tubuhku,
kau sangka hatiku ini batu?
Paling tidak cari tahu cintaku,
baru lampiaskan nafsumu.

Oh, sialan.
Kenapa kau tak mati saja usai persetubuhan?
Kenapa kita tak terbakar di neraka.
Satu lagi, jangan sebut aku kekasih, terima kasih.

Diamlah gerutumu, ini maksiat bukan cinta, bangsat!

#30HariMenulisSuratCinta #16 untuk Sari

Published January 30, 2012 by eqoxa

Hallo Sari,

Apa kabar Sar? Semoga baik ya. Anakmu sudah semakin besar aja ya. Senang melihat mereka tumbuh demikian cepatnya.

Sejak kita berpisah waktu itu, aku sedih. Kita tak bisa lagi menghabiskan waktu bersama. Sekedar membahas apa-apa saja yang sebaiknya wanita pedulikan, penampilan salah satunya.

Dari dirimu aku belajar menjadi wanita rajin. Setiap bermain ke kamarmu aku akan berfikir, beginilah seharusnya kamarku. Rapi dan girly .

Kita berteman sejak SMA ya. Tepatnya saat kita sudah kelas tiga. Lalu berlanjut karena kita satu bus dan rumah kita satu komplek. Aku suka menginap di rumahmu, karena kita menggosip hingga pagi.

Kamarku sekarang sudah rapi Sar, kalau kau mau tahu. Memang tak sehebat kamarmu, tapi tak seperti dulu – mungkin kau tak akan menemukan sarang laba-laba lagi di dinding-dindingnya.

Kamarmu pasti lebih lebar ya, sekarang telah ada tiga orang yang kau cintai. Suami dan kedua putri kecilmu. Aku tentu tak akan bisa lagi menginap di sana. Dan tetap aku bahagia untukmu.

Kampung kita sama, rumahnya pun tak jauh juga. Masih kuingat kue nastar yang kau beri saat lebaran dua tahun lalu. Kau membuatnya sendiri katamu, betapa enak rasanya.

Suatu hari nanti kalau jadi ibu, aku akan belajar padamu. Semoga kau tetap sabar seperti biasa, dan rela menjawab semuanya. Yah, aku sangat senang berteman denganmu, terutama kejujuran dan kesabaranmu, menghadapi sikap dan kelakuanku yang kadang suka seenaknya. Semoga, dengan surat ini, kau bisa tersenyum membacanya dan mengingatku selalu.

Salam rindu,

Ika

#30HariMenulisSuratCinta hari ke #17 Gitar

Published January 30, 2012 by eqoxa

Hai,

Di sudut ruangan aku melihatmu diam. Bergeming dan menatapku sendu. Mungkin dalam hatimu kau bilang “petiklah aku”.

Aku menatapmu saja sambil menggeleng, dan mataku berkata “aku tak sehebat itu”. Lalu kita hanya akan saling menatap saja. Kadang rasaku tak tertahan dan berjalan ke arahmu, memelukmu dan menyentuh senar-senar hatimu yang berlubang. Lalu ia hanya akan berbunyi “teng”. Tak indah.

Tak kumengerti nada mayor dan minor, hanya beberapa tangga yang sering ku amati. Mungkin tak membuatmu kian indah meliuk di tubuhku. Menyanyikan kelabu.

Akan kau bacakah surat ini? Tak peduli. Aku hanya bernyanyi, memahamimu baru setengah hati. Setengahnya untuk lirik yang mencintaimu sepenuhnya, dengan suara yang kusenandungkan pada tiap gema senarmu.

Suatu saat di atas panggung besar, akan kuingat pertama kali – saat kita mencipta lagu cinta, juga banyak lagu pedih lainnya. Aku kadang menangis memelukmu, dengan tak berdayaku menahan kepedihan, dari diammu yang perhatian.

Oh, Gitarku yang sepi, mendentinglah sendiri.

Mencintaimu,

Ika

#30HariMenulisSuratCinta hari ke #15 kepada hari ini

Published January 28, 2012 by eqoxa

Hei Sabtu,

Barangkali kau sudah tahu. Hari ini adalah hari sibuk sedunia. Aku dengan bandku, ada yang pacaran, ada yang cari pacar, ada yang masih lembur di kantor, ada yang hanya malas-malasan (ini sibuk juga ya?).

Aku tak usah menanyakan kabarmu, kau sudah terlalu sibuk membagi waktu, tak sempat menjawabku. Tapi semoga kau sehat saja ya. Juga mengurusi mana yang akan diperlambat, atau dipercepat. Paling tidak, waktu yang kujalani baik-baik saja.

Seperti biasa kami bangun kesiangan, tidur kepagian. Aku sudah mempersiapkan segala keperluan manggung, dan kau tahu ? Kami tetap terlambat. Untungnya bos kami di sana tidak galak. Katanya kami tinggalnya terlalu jauh.

Kalau bisa meminta padaNya – mungkin aku meminta dirimu bertambah waktu, entah siangnya jadi lebih lama, atau pagi menuju siang – tapi jangan malamnya. Aku khawatir aku semakin tak bisa tidur cepat.

Orang selalu menyukaimu, kau tahu? Meski beberapa orang kesepian yang fikirannya sempit tidak begitu. Mereka cenderung mengutukmu. Aku? Entahlah, aku suka setiap sabtu menandai kalenderku – menulisi nama kafe dan angka -angka, jumlah penampilan yang keberapa – kalinya.

Aku paham kau primadona hey Sabtu, tapi ingat, kau tak perlu meninggikan dagu, ingatlah masih ada adikmu Minggu di sebelahmu. Ia pun primadona. Hari yang ditunggu-tunggu. Sampaikan pada senin, selasa, rabu – bahwa mereka adalah hari liburku sesungguhnya. Kamis hari berbenah dan latihan, Jumat sudah harus tampil lagi. Minggu aku kadang libur – kebanyakan tidak. Banyak acara mendadak memenuhinya.

Aku suka padamu Sabtu, karena bagiku dirimu begitu tenang. Bahkan jalan raya lengang. Sederhana saja cintaku padamu, soal bagaimana Jakarta tak semacet biasanya.

Kapan-kapan kita kencan ya Sabtu. Dan aku telah berjanji untuk tersenyum setiap kau datang. Semoga kau membalas suratku (rasanya tak mungkin)

Yang mencinta,

Ika

Segini

Published January 28, 2012 by eqoxa

Pada pukul segini biasanya aku akan bangun. Mencari-cari nyawa yang masih berantakan, ngalor -ngidul twiteran.

Setelahnya kira-kira jam segini, aku akan mandi dan mencari penganan untuk di makan. Maklum, aku tinggal di hutan. Belantara Jakarta yang rimbun perjuangannya.

Seseorang entah siapa akan mencari diriku sambil mengucapkan salam khasnya, “selamat gini hari, ika.” Katanya, sekitar jam segini. Bukan kekasih, cuma sahabat.

Hari semakin gini, aku mulai kegiatanku. Memenuhinya dengan menghabiskan uang atau mencarinya. Usai itu, aku pulang jam segini.

Saat tidur aku mengabaikan waktu. Entah jam berapa waktu itu. Cuma aku berdoa – semoga saja saat aku hendak bangun, waktu tak berhenti.

KOWAWA dan apalah

Published January 28, 2012 by eqoxa

Twitter. Jaman sekarang mungkin sudah jadi gaya hidup. Beberapa menjadikannya tempat sampah. Beberapa menjadikannya gudang uang.

Seperti kemarin #kowawa menjadi trending topic. Sah-sah saja. Bukan persoalan selebtwit siapa dan siapa mengikut siapa. Twitter toh tempat sampah (buat saya sih sampai saat menulis ini). Setiap pribadi tentu punya cara sendiri beserta gerombolannya – dalam berekspresi. Dan ya, sejak lama kita tahu berekspresi itu hak asasi. Perbedaan itu hal yang menarik. Toh kalau semua orang persis seperti anda – dunia tak ada menariknya.

Kalau beberapa menganggap kowawa itu sampah atau hal gak penting – kenapa harus dibahas sedemikian dalam? Dengan mengkait-kaitkannya dengan moral (sikap latah) anak bangsa ini, bukankah hal itu berarti penting?

Kenapa harus membahas akan dibully atau dikeroyok bila tak suka dengan hal itu? Siapa yang akan membully? Seperti sebuah pesta, kegiatan #berkowawa bersama ini kan cuma kesenangan. Toh anda tidak diundang, tak dilarang pula jika ingin nyemplung. Cukup selangkangan aja yang sempit, hati dan fikiran – jangan.

Saya mengutip dan menekankan pada diri sendiri seperti prinsip @frzlt
– Jangan terlalu serius. Nanti mati.

Salam kowawa