Cinta Tidak Hanya Merah Jambu (2)

Published March 2, 2018 by eqoxa

“Halo?”

“Kana?”

__

Persahabatan Kana dan Anggri sudah sejak mereka umur 5 tahun. Sebagai keluarga yang tak punya tetangga, hanya Anggri satu-satunya teman yang sering diajak main ayah Kana ke rumah mereka, sebab ayah Anggri adalah sahabatnya. Suka sekali mereka mengajak Kana dan Anggri pergi memancing. Kebiasaan ini terus berlanjut hingga suatu hari ayah Anggri berpulang karena penyakit yang sudah lama diidapnya. Sejak saat itu, tak pernah lagi ada kegiatan memancing.

Sejak kecil, Kana memang tak pernah mengalah. Padahal ia lah yang paling sering menangis kalau Anggri tak datang satu hari saja ke rumahnya. Sejak tak pernah memancing lagi, Anggri sering dititipkan ke rumah Kana. Ibunya harus bekerja dan tak ada siapapun yang menjaga Anggri. Selayaknya anak kembar, mereka tak bisa dipisahkan satu sama lainnya.

Usia terus bertambah. Kana bagaikan matahari yang terang, begitu cemerlang karena kecerdasannya. Anggri yang pendiam, terus saja begitu hingga ia remaja. Bahkan semakin tertutup dan susah bergaul dengan orang lain. Rasa minder yang berlebihan membuat ketampanannya bersembunyi di balik kacamata yang tebal dan kebiasaannya berjalan kikuk.

Entah berapa kali Kana patah hati dan putus cinta. Anggri lah tempat bersandarnya, bahunya yang kokoh itu tempat Kana menangis meraung-raung ketika pacar pertamanya; Laksmana, ketahuan membelikan perempuan lain boneka beruang bertuliskan “I love you“. Belum lagi Bagas, Sigit, Faris dan beberapa nama lainnya yang ujung-ujungnya hanya membuat Kana patah hati dan menangis di bahu Anggri.

Anggri yang kaku dan bingung memperlakukan wanita hanya bisa diam sambil membiarkan Kana meracau. Tak sepatah-kata pun keluar dari mulutnya, tak pula mengeluarkan kata apapun untuk menyabarkan Kana. Tidak, sebab Kana tak suka kata itu. Malah akan dibentak pula dia nanti.

Begitulah terus waktu berselang dengan segala drama percintaan Kana yang tak pernah berakhir bahagia. Meskipun Anggri tahu, bahwa Kana sebenarnya sangat cerdas, tapi tidak soal percintaan. Terlalu mudah ia untuk dirayu, hatinya rapuh pada puisi dari lelaki yang tak logis dan sangat gombal kalau menurut Anggri. Tapi Kana selalu buta, tuli dan bisu jika telah jatuh hati.

***

Pada musim hujan yang berkepanjangan, kota ini menjadi sangat dingin. Semakin dingin ditambah kepergian ibu Kana kembali ke Tuhannya. Kana demam berminggu-minggu lamanya. Seolah ingin ikut mati, ia tak mau makan apapun hingga lemah dan rapuh. Itulah kali pertama kalinya Anggri meneteskan air mata untuk seseorang selain ayah dan ibunya. Ia tak kuat melihat kesedihan yang dialami perempuan itu. Sebab Ibu Kana telah dianggapnya ibunya juga.

Ayah Kana berencana menikah kembali setelah dua tahun kepergian ibu Kana, baginya, menikah itu hanyalah agar Kana ada yang memperhatikan. Sikapnya yang keras kepala dan egois karena menjadi kesayangan satu-satunya bagi sang ayah semakin menjadi-jadi. Sehingga ayah dan anak ini menjadi tak begitu akur. Anggri yang setia pun menjadi bulan-bulanan keegoisan sikapnya. Telah salah mereka mendidiknya. Terlalu dimanja.

Tak berapa lama waktu yang dibutuhkan ibu Anggri untuk bertahan. Ia telah sakit-sakitan karena bekerja terlalu keras untuk menghidupi anak-anaknya. Anggri hanya punya dua adik perempuan yang juga turut dibesarkan ibunya. Akhirnya ia menyerah pada sakit jantung yang merenggut nyawanya tiba-tiba pada suatu malam di bulan Desember, tepat satu hari sebelum ulang tahun Anggri.

Anggri seperti sedang dicabut kulit dari tulangnya. Pedih dan sedih yang tak bisa dijelaskan kata.

Kana ada di sana, memeluknya. Menangis lebih terisak daripada Anggri, membahasahi punggung baju yang dipakai Anggri hari itu. Kana memintanya untuk kuat dan jangan menangis. Anggri berjuang sekuat tenaga untuk tak meneteskan air mata sedikitpun di hadapan Kana. Sampai saat akhirnya ia menutup kain kafan untuk melihat wajah ibunya terakhir kali, ia sudah tak kuat lagi.

Berjalan ia menjauh dari Kana, tak terarah, dan terus berjalan sehingga kelelahan ia sampai di hutan pinggir kota dan ditumpahkannya air matanya. Kana mengerti, ia tak akan mengganggu Anggri sementara waktu.

Sejak itu, Anggri sendirilah yang harus bekerja banting tulang membesarkan adik-adiknya. Pemuda yang pendiam ini semakin sibuk dan hampir tak punya waktu untuk Kana. Ayah Kana memberikan referensi padanya untuk magang di kantornya, agar mendapatkan uang bulanan untuk biaya sekolah. Itupun malam hari ia harus lanjut bekerja paruh waktu menjadi pelayan di restoran untuk membeli baju sekolah dan buku.

Tapi hanya sebentar. terjadi kecelakaan saat mereka hendak mengunjungi paman mereka di kampung. Saat itu, Anggri pun terluka parah hingga koma sebulan lamanya. Keluarga Kana mengambil alih pengobatan itu. Tapi kedua adiknya tak bisa diselamatkan.

“Ayah, kapan Anggri bangun?” katanya sambil terisak.

“Kana harus kuat, Kana harus berdoa.” jawab ayahnya. Kali ini mereka sudah tak sering lagi beradu argumen. Peristiwa yang dialami Anggri membuka mata Kana. Tak terbayang jika harus sendirian di dunia ini tanpa siapa-siapa. Hanya ayahnya yang kini dimilikinya.

Sambil mengusap air matanya, Kana berkata “Iya ayah, Kana akan kuat. Anggri pasti bangun.”

 

***

“Kana? Kana?”

 

 

Bersambung

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Cinta Tidak Hanya Merah Jambu

Published February 25, 2018 by eqoxa

Sepanjang jalan yang Kana pernah lewati, hanya ada daun-daun saling berbisik. Matanya awas dan menduga-duga apa yang sedang mereka bicarakan. Barangkali saja ada yang tertangkap telinga. Kepalanya sibuk dengan ini-itu yang berantakan tak bertujuan. Gelisah akan entah apa yang akan dialaminya.

Berbuat salah itu hal yang lumrah bagi manusia, kadang malah bukan hanya sekali. Tetapi Kana tidak sadar dengan kesalahan yang sudah berjuta kali  dilakukannya pada Anggri. Lelaki itu memang punya sabar berjuta kali lipat pada sikap sembrono Kana kepadanya. Marah, kesal, diam, bentak, maki, oh … tapi terakhir kali, Kana melemparkan hadiah berbungkus kado merah jambu dari Anggri hingga terjatuh ke kakinya, hanya karena ia tak suka warna bungkusnya. Anggri mengambil kado itu dan meninggalkan Kana tanpa berkata apapun. Kana membatu.

Anggri tidak lagi meminta maaf seperti yang biasa dilakukannya. Ia bahkan tak mengirimkan Kana sedikitpun pesan. Kana dan kesombongannya yang sudah besar dan tak terurus itu tentu tak akan mengorbankan egonya hanya untuk menyapa Anggri lebih dulu, apalagi meminta maaf. Iya, Kana seangkuh itu.

Anehnya, Kana merasakan dadanya sakit. Dunianya lalu mendadak terpusat hanya kepada kata “Ada apa dengan Anggri?”, “Kemana Anggri?”, “Apa Anggri benci sama gue?” dan lainnya yang berkaitan dengan hilangnya Anggri dari segala aktivitas Kana sepanjang hari. Kana mencoba untuk tetap angkuh meskipun sebagian hatinya terus mendorong-dorong dua jempolnya yang berkuku biru itu untuk menekan tombol “Panggil” pada nomor telepon Anggri. Sungguh drama.

“Wajar, sih” begitu sesal Kana pada dirinya sendiri setelah lebih dari seminggu Anggri tetap tak muncul juga di hadapannya. Mendadak semua kelakuannya yang menyebalkan kembali berkelebat dan membuat matanya berair. Ia telah sadar bahwa ia memang kurang ajar pada Anggri. Tapi anehnya, egonya tak jua meluntur. Mulutnya tertutup rapat dan jiwanya belum bergeming untuk sekadar menyapa lebih dulu. Perempuan keras kepala.

Sempat sekali Kana tak sengaja melihat Anggri keluar kantornya dan berbicara riang dengan teman sekantornya, waktu itu kebetulan saja perempuan itu ia kenal. Itu Ana, teman sekantor Anggri yang juga adalah sahabat Kana. Darahnya berdesir di jantung dan berdetak lebih cepat dari biasa. Apakah mereka pacaran?

Sudah hari ke -17 sejak Anggri tak lagi bicara padanya. Kana belum terbiasa juga. Terlalu banyak dugaan, tanpa adanya konfirmasi. Kemauan bertanya seperti tertahan di mulutnya. “Nanti Anggri kirain gue naksir dia lagi.” Begitu pikir Kana. Padahal tanpa sadar, ia memang sudah sayang pada lelaki itu.

Teleponnya berdering, itu nada dering yang dibuatkan Kana untuk Anggri, karena ia dulu sangat benci kalau lelaki itu menghubungi, sehingga ia tandai agar tak usah dijawab. Kali ini rasanya beda, jantungnya berdebar dan pipinya panas. Tangannya dingin dan ia kebingungan harus bilang apa nanti.

“Halo?”

“Kana?”

 

Bersambung

 

 

Terbaik

Published February 14, 2017 by eqoxa

Dear Em,

Dirimu pasti sudah bahagia di sana kan? Selamat pagi, siang dan malam. Sudah sarapan, makan siang atau malah lagi ngemil malam? Maaf, aku tak begitu familiar dengan pergantian waktu di surga. Bagaimana keadaan di sana? Pasti lebih menyenangkan dari di sini ya. Tak ada lagi kesakitan di tubuhmu, ataupun derita yang tak pernah sekalipun kau keluhkan pada banyak orang. Kau hebat menyembunyikan itu semua.

Sampai saat ini aku masih percaya bahwa orangorang terbaik akan dijemput Tuhan lebih dulu, diselamatkan dari godaan dunia. Kaupun pastilah satu dari sekian orang itu.

Di sini aku, dan temanteman Poscinta kesayanganmu ini sedang mengenang. Segala waktu yang pernah kita habiskan bersama sejak pertama kenal hingga komunitas ini berjalan hingga saat ini. Hari ini, khusus mengenangmu. Sedih pasti iya, tapi aku yakin kau sudah bahagia. Jadi biarkan saja kalau kau melihat kami mengetik tulisan ini dengan mata berkaca dan hidung berair. You know what?! Aku sampe diliatin mas – mas barista kedai kopi langganan, disangkain aku putus sama pacar. Padahal mah jomlo.

Yang paling kuingat dari dirimu adalah tawamu yang lebar dan tulus itu. Juga konsistensimu setiap mengerjakan apa-apa. Itu sangat menginspirasiku.

Em,

terima kasih sudah menjadi bagian dari kisah persahabatanku. Terima kasih telah membimbingku dengan sabar menjadi tukang pos. Selalu dewasa mengambil sikap dan menghadapi tingkah yang kadang sebenarnya ngeselin banget. Mari saling memaafkan ya. Kau harus tahu, betapa aku tak bisa menahan air mataku mengalir deras tanpa henti, tiap kali mengingatmu. Tapi jangan khawatir, ini hanya sesak karena kita sudah tak bisa lagi bertemu, meskipun aku sudah terlalu rindu.

Terakhir kita ketemu di nikahnya EkaOtto, saat itu kau dan teman PosCinta lainnya kupaksa nyanyi. Dengan polosnya kau ikuti saja kemauanku itu, mungkin itu caramu untuk bikin senang pengantin ya. Masih jelas kuingat wajahmu bernyanyi sambil tertawatawa lucu, karena lagunya All of Me – John Legend, dinyanyikan oleh para pemalu. Ah.. menetes lagi lah air mataku. Tisu mana tisuuuuu.

Baik-baik ya, Em. Sampai ketemu lagi saat waktunya telah sampai.

 

Dari tukang Pos, Ika Vuje.

Jakarta, 14 Februari 2017 #PosCintaTribu7e

#UntukOmEm

 

 

 

 

 

Untuk Sepasang Musuh Tersayang

Published February 12, 2017 by eqoxa

Kepada Anda berdua,

Aku tak ingin melewatkan satu tahun pun untuk menuliskan surat cinta kepadamu, satu wanita dan satu pria yang saling memusuhi.

Pertama,

maafkan aku. Sebab sering aku mengambil keuntungan dari permusuhan kalian demi mendapat perhatian. Tapi sekarang, aku justru masih sering mencari akal agar kalian tak lagi saling bermusuhan. Hobi kalian yang satu itu sungguh mengganggu, bikin berisik, rumah jadi kayak ada lima belas orang. Aku tahu, kata – kataku kasar, ketus dan tak penuh kasih sayang. Beda sekali jika dibandingkan dengan gaya bicaraku dengan teman – teman. Tapi bukan berarti aku benci Kalian.

Kedua,

mari kita saling mendoakan. Doa anda berdua adalah yang paling manjur. Tak langsung terwujud memang, tapi paling cepat ditanggapi. Wajar, karena kalian wakil Tuhan. Aku mendoakan kalian pelan – pelan, dengan bahasa yang tak dibuat-buat. Dengan kadar cinta yang paling dasar, ditemani kaca-kaca berbulir di retina, dengan suara berbisik di lembah terjal yang bernama; hatiku. Bagian ini aku tak terlalu suka, sebab inilah saatnya aku merasa paling lemah dan banyak dosa.

Ketiga,

terima kasih. Kalian begitu istimewa. Tak bisa kubayangkan apa jadinya aku kalau kalian tak ada. Yah, meskipun untuk beberapa hal sikap anda, anda, cukup bikin sebal, tapi itu wajar, karena bagaimanapun anda berdua adalah manusia.

Tidak usah membaca surat ini segera. Nanti saja, ketika anda dan anda berhasil menemukannya, dengan cara paling tak disangka sekalipun. Karena aku yang tangguh dan berambut pendek ini adalah pemalu sejati. Ya, demi tuntutan peran pastinya aku harus melepaskan sikapku yang ini menjadi lebih percaya diri.

Terima kasih untuk kasih sayangnya, semoga Tuhan menyayangi Papa dan Mama, lebih baik dari dahulu merawatku sejak kecil.

 

Salam hangat

Anak

By @ikavuje

Menulis surat 7 hari bersama Pos Cinta – #PosCintaTribu7e

Ada Apa dengan Habibie?

Published July 27, 2016 by eqoxa

Masih adakah orang di Indonesia ini yang tak kenal Habibie? Saya rasa hanya segelintir. Sebab beliau adalah seorang tokoh bangsa, yang menurut saya, bisa disejajarkan dengan pejuang kemerdekaan. Lihat saja semua gelar yang beliau miliki, menunjukan betapa cerdas dan gigihnya beliau dalam menimba ilmu. Dan tak mudah menjual karya atau ilmunya kepada bangsa asing.

Sempat menjabat sebagai presiden ke-3 di Indonesia tak menjadikan pribadinya berubah. Kalau jam tidur mungkin iya (saya sih cuma menebak-nebak saja dalam hal ini). Presiden memang jarang tidur nyenyak itu iya atau enggak, sih? Mungkin iya, ya. Ya tapi kalau beneran mikirin negara dan rakyatnya, sih, pasti jadi kurang tidur. Nanti kalau ketemu pak Habibie, bakal saya tanyakan soal ini deh (penting banget, sis?).

Dalam kepemimpinan beliau, tak ada lagi pribumi atau non pribumi, Indonesia itu benar-benar jadi satu. Satu bangsa. Habibie jugalah yang memberikan kita hak kebebasan berpendapat terhadap pemerintah, mengajarkan tentang demokrasi yang sesungguhnya. Selain itu, proses pemilihan umum dan penghitungan suara pun dilakukan dengan lebih terbuka. Dengan cepat beliau mengubah peraturan, agar bisa langsung diaplikasikan di pemilihan berikutnya. Sayangnya beliau terlalu baik, akibatnya tak terlalu banyak yang mau dan berani mendukung beliau. Akhirnya beliau mundur dan kita tidak bisa melihat kepemimpinan beliau lebih lama di Indonesia. Selain itu beliau juga bikin pesawat, pesawat pertama buat Indonesia.

“Politik itu penting lho untuk dipelajari, ya, minimal diketahui beritanya..”, begitu kata teman saya. “..karena politik mempengaruhi naik-turunnya harga sembako dan tarif transportasi.”, lanjutnya lagi. Sebab itu sedikit-sedikit saya mulai membaca berita politik, salah satunya tentang presiden-presiden yang pernah menjabat di Indonesia.

Sebagai orang awam yang tak begitu paham politik seperti saya ini, Habibie itu keren. Karena saya yakin, hidup beliau sudah enak dan nyaman di luar negeri sana, sangat dihormati dan diakui kredibilitasnya, bahkan mungkin (maaf) lebih besar gajinya. Ngapain cari masalah pulang ke Indonesia? Padahal untuk seorang Habibie, beliau bisa memilih untuk jadi EGP (Emang Gue pikirin) aja. Ada apa dengan Habibie? Tak lain tak bukan adalah karena beliau cinta negeri ini, beliau adalah seorang professor yang diinginkan oleh negara lain, namun ia memilih untuk rela meninggalkan mimpinya (yang meskipun pada akhirnya justru tak begitu banyak orang lain yang bisa melihat atau menghargai perjuangannya itu). Meskipun begitu beliau tak patah arang membangun negeri ini dengan caranya sendiri, terlihat dari banyaknya bantuan yang diberikan kepada anak yang tak mampu, dalam bentuk panti asuhan dan beasiswa. Bentuk kepedulian beliau terhadap generasi masa depan yang mungkin saja, keberhasilannya terbentur biaya pendidikan dan biaya hidup. Masih kurang?

Istrinya yang cantik dan cerdas itupun ibaratnya sosok di balik rahasia sukses beliau. Bagaimana tidak, ibu Ainun selalu setia mendampingi sang suami dalam keadaan apapun, mengikuti dengan kepercayaan dan semangat penuh demi kesuksesan beliau, hingga akhir hayatnya. Kisah cinta mereka tentunya, menjadi inspirasi bagi mereka, yang mungkin mencari-cari tahu arti kata setia, cinta sejati di dalam kehidupan nyata. Dengan cinta yang besar itu barangkali, Habibie menjadi pecinta juga, melakukan hal-hal inspiratif yang tak kasat mata, yang belum bisa dilakukan orang lain selain beliau, demi kemajuan bangsa.

image

Sumber foto: http://www.hipwee.com

Saya semakin tertarik dengan Habibie (selain karena film dan buku beliau), juga karena fakta-fakta yang nyata, yang sudah diaplikasikan hingga saat ini. Detik-Detik Yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi adalah buku yang bisa menjadi renungan panjang bagi siapapun yang sebelumnya menutup mata, tidak peduli dengan apapun yang terjadi di Indonesia menjadi bertambah wawasannya, melihat bahwa kita benar-benar tak boleh berhenti berjuang dan berharap untuk memajukan negeri ini.

Barangkali anda tertarik mencari tahu hal-hal tentang Habibie lainnya? Yuk, ikut saya melihat pameran foto Habibie dan gebyar aneka lomba yang diselenggarakan berbagai komunitas yang tergabung dalam Friends Mandiri Museum. Pameran ini dibuka untuk umum mulai 24 Juli 2016 hingga 21 Agustus 2016 di Museum Bank Mandiri, Kota Tua – Jakarta Barat. Barangkali setelahnya, anda bisa mendapat inspirasi, dan terpilih menjadi presiden berikutnya. Berani?

 

#Habibie80

I Choose Love

Published March 24, 2016 by eqoxa

   

 

Lipstik barangkali sekadar barang mungil yang tak begitu berarti di mata pria. Tetapi beda dengan wanita, lipstik adalah energi dan ekspresi diri yang nyata. Perempuan mencintai lipstik seperti temannya sendiri. 

Ada ratusan warna lipstik yang bisa menyesuaikan wanita dengan busananya, acaranya atau bahkan emosinya. Ekspresi yang dihasilkan dari warna yang berbeda maka efeknya pun berbeda, ada kalem, ada feminin lembut, ada liar bahkan menyeramkan. Salah pilih lipstik, justru bisa menjadikan wajah anda tidak menjadi cantik, malah berantakan.

Saya juga adalah penggemar lipstik dengan banyak warna, terutama matte, sesuai kepribadian saya yang ekspresif dan ceria tapi sedikit kikuk. Seperti Rabu 23 Maret 2016 kemarin saya diundang untuk datang di acara Choose Love Revlon dalam peluncuran lipstik baru mereka Revlon Ultra HD Matte Lipcolor di Atrium Mall Taman Anggrek.

Diawali dengan registrasi dan foto-foto di sana-sini. Ada banyak booth juga untuk main games dan juga gratis dandan buat yang berbelanja dengan harga tertentu.

   

Kartu registrasi saya yang keren.

  

Saya di salah satu booth foto.

 

Ada juga games seru seperti di foto, yang memenangkan nilai tertentu bisa dapat diskon.

  Saya dan teman-teman yang sibuk mencoba semua jenis warna baru Ultra HD Matte Lipcolor Revlon lalu foto bersama.

Dengan misi mereka yang sangat universal ini bapak Phillips Gunawan menyampaikan tentang produk Revlon ini, bagaimana agar wanita lebih mencintai dirinya dan mampu menunjukan cinta ke sekitarnya, sangat menarik dan meriah. Acara yang dipandu oleh mbak Ivy Batuta yang cantik ini sangat simple dan penuh cinta, dan sangat wanita sekali.

  
Penasaran dengan temanya ini saya duduk anteng dengerin mbak Shiny ngobrol sedikit sejarah dan kampanye mereka yaitu Choose Love. “Kita harus meng-encourage perempuan Indonesia agar lebih menunjukan cintanya kepada lingkungan dan meluangkan waktu untuk dirinya agar semakin percaya diri dengan Revlon.” pungkasnya.

  
Pilihan warnanya ada 8 yaitu Devotion, Obsession, Addiction, Temptation, Love, Seduction, Flirtation, dan Passion. “Semua tentang cinta temanya” Kata mbak Shiny.

Saya ikut mencoba sendiri karena warnanya sangat menggoda. Saya cobain Love. Sambil mengingat lagi, bahwa Revlon adalah brand pertama yang saya pakai saat pertama mengenal dandan. Mengenalnya sekian lama, tentu tak perlu khawatir lagi kualitasnya. Lipstik baru mereka yang Ultra HD Velvety Matte ini sangat lembut di bibir dan wanginya menggoda sekali, apalagi untuk saya yang punya bibir kering dan gampang pecah-pecah, teksturnya memenuhi ruang di bibir yang biasanya retak kalau memakai lipstik matte biasa.

Di akhir acara semua undangan mendapat goodie bag yang membuat girang, yap 3 buah lipstik dalam kemasan yang cantik bisa dibawa pulang.

  Foto oleh Arinda


Oke, mulai hari ini, sepertinya Ultra HD Velvetty Mate lipcolor Revlon akan jadi lipstik andalan saya, harganya yang cukup terjangkau, 110K, pun semakin menambah minat saya. Bisa cantik segar dengan harga terjangkau pula, why not?

I Choose Love, Choose Revlon. 

Sampai Kita Jumpa

Published February 29, 2016 by eqoxa

Baru kemarin rasanya tanggal 1 Februari itu, kok hari ini sudah habis bulannya? Aku sering merasa waktu itu hampir sama cepatnya dengan cahaya. Buktinya banyak orang yang kemarin cinta, hari ini sudah tidak. Bukan, aku bukan curhat. Tapi bohong.

Cinta itu apa? Seorang penulis menanyakan padaku hal ini, menurutku cinta itu yang membuat rasa di dada, entah itu rasa pedih, ataupun bahagia. Maka cinta itu sebenarnya, biasa saja.

Para penulis surat cinta itu siapa? Aku pun tak kenal secara personal. Ada Anna, ada Yara, ada Tyas, ada Hana, ada Wilma dan yang lain yang tak sanggup kusebut satu-persatu namanya. Tapi aku kagum sekali dengan kegigihan mereka, itulah yang membuatku tiap hari bersemangat membaca dan mengantar surat mereka. Selesai membaca aku pasti selalu menebak-nebak akan menulis apa lagi mereka besok. Energi yang luar biasa. Aku mengaku kalah.

Cinta itu memang besar sekali, kecintaan mereka pada menulis itu yang aku maksud. Sebab jika tidak, maka semangatnya akan hilang di tengah bila euforia juga hilang. Mereka ini tidak. Mereka menuliskan cinta dengan rajinnya, dengan banyak sekali model cerita yang tak kutemui dalam hidupku, cinta yang kaya.

Surat ini menurutku bukan surat perpisahan, hanya jeda sejenak, sebelum kita bertemu lagi di cerita yang lain. Oh iya, aku ingin mengajak kalian, penulis keren, kencan menonton film bersama. Tanggal 26 Maret 2016 di Jakarta rencananya. Berminat? Jika iya, daftar denganku di twitter ya. Sampai kita jumpa!

 

Jakarta, 29 Februari 2016